Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Kamrussamad: Surplus Neraca Perdagangan Perlu Diwaspadai

Jumat 16 Apr 2021 18:56 WIB

Red: Agus Yulianto

Anggota Komisi XI dari Fraksi Gerindra Kamrussamad dalam acara Temu Stakeholder di Bali, Jumat (9/4) Antara Perbankan, Pelaku Usaha serta Otoritas Fiskal.

Anggota Komisi XI dari Fraksi Gerindra Kamrussamad dalam acara Temu Stakeholder di Bali, Jumat (9/4) Antara Perbankan, Pelaku Usaha serta Otoritas Fiskal.

Foto: Istimewa
Ada sejumlah alasan agar surplus neraca pedagangan itu perlu diwaspadai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kinerja ekspor Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan indeks PMI Bank Indonesia yang mengalami peningkatan pada Q1 2021 sebesar 50,01 persen dibandingkan Q4 2020 sebesar 47,29 persen. Peningkatan terjadi pada hampir seluruh komponen pembentuk PMI-BI terutama volume total pesanan, volume persediaan barang jadi, dan volume produksi yang berda dalam fase ekspansi.

"Namun, yang perlu diperhatikan adalah surplus neraca perdagangan pada Maret 2021, perlu diwaspadai dan diperhatikan secara berhati-hati," kata Kamrussamad Anggota Komisi XI DPR Fraksi Gerindra Dapil DKI Jakarta dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id, Jumat (16/4)

Menurutnya, ada sejumlah alasan agar surplus neraca pedagangan itu perlu diwaspadai. Yakni, pertumbuhan volume perdagangan sebenarnya lebih rendah daripada nilai komoditasnya, sehingga terdapat kenaikan harga di tingkat produsen. Volume komoditas manufaktur yang lebih rendah dari nilainya seperti produksi manufaktur pada mesin industri dan peralatan listrik.

"Dengan mengikuti tren yang terjadi, kegiatan ekspor dan impor mengalami peningkatan yang signifikan pada periode menjelang Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang dikhawatirkan adanya libur panjang sehingga industri mengirim muatan hasil produksinya terlebih dulu," ujarnya.

Dikatakan Kamrussamad, surplus neraca perdagangan pada Maret 2021 disebabkan oleh surplus dengan Amerika Serikat, Filipina, dan India dengan masing-masing sebesar USD 1,33 miliar, USD 592,1 juta dan USD 502,4 juta. Sedangkan, kontribusi defisit terbesar berasal dari Australia, Korea Selatan, dan Thailand dengan nilai masing-masing sebesar USD 503,5 juta, USD 546,8 juta, dan USD 281,1 juta.

Di sisi lain, sambung dia, peningkatan ekspor yang tinggi tercermin surplus pada neraca perdagangan menunjukkan bahwa ekonomi eksternal secara agregat mengalami pemulihan secara cepat. Terutama, pada negara-negara utama mitra dagang Indonesia. Sementara itu, kinerja impor masih terkontraksi yang disebakan oleh pemulihan ekonomi domestik masih relatif lambat.

"Percepatan program vaksinasi COVID-19 dan pembiayaan infrastruktur dipercaya akan mendorong dalam meningkatakan permintaan domestik dan keyakinan konsumen akan optimisme terhadap situasi ekonomi ke depan," ujar dia.

Selain itu, sebut dia, fokus pemerintah terhadap UMKM harus terus diberikan terkait pada program pembiayaan. Sehingga, dapat mendorong peningkatan produksinya untuk dapat melakukan ekspor sehingga dapat memberikan kontribusi dalam penerimaan negara.

"Peningkatan ekspor Janauri-Februari 2021 ke bebrapa negara Kawasan Asia Pasifik menunjukkan pentingnya Kawasan tersebut bagi Indonesia," ujar Kamrussamad. 

Pembukaan market akses melalui kerja sama perundingan perdagangan internasional khususnya di negara kawasan Asia Pasifik seperti Indonesia-Australia CEPA yang telah diimplementasikan pada Juni 2020 serta Indonesia-Korea CEPA yang baru saja ditandangani Desember tahun lalu, memegang peranan penting bagi perluasan pasar ekspor Indonesia.

Selain itu juga, ucap dia, kenaikan impor barang modal diharapkan menjadi sinyal kegiatan industri dan investasi di dalam negeri yang mulai bergerak membaik. Produksi yang dimaksud seperi alat angkut untuk industri, mobil penumpang, dan barang modal kecuali alat angkutan.

Sementara dalam mengantisipasi tingginya permintaan pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri, diharapkan tetap menjaga pasokan yang cukup. Sehingga, harga tidak mengalami peningkatan harga dan stabilisasi harga dapat terkendali.

Sebelumnya, dalam rilis yang dikeluarkan BI disebutkan, surplus neraca perdagangan terus berlanjut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Neraca perdagangan Indonesia Maret 2021 kembali surplus sebesar 1,57 miliar dolar AS, meskipun sedikit menurun dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya sebesar 1,99 miliar dolar AS. 

Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia telah berturut-turut mengalami surplus sejak Mei 2020. Neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Maret 2021 secara keseluruhan mencatat surplus 5,52 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung pemulihan ekonomi. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA