Alasan Istiqlal Dibatasi untuk Satu Persen Kapasitas Jamaah

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Indira Rezkisari

 Jumat 16 Apr 2021 16:14 WIB

Umat muslim melaksanakan shalat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/4). Masjid Istiqlal kembali menggelar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pada 1 Ramadhan 1442 Hijriah dengan menerapkan protokol kesehatan serta pembatasan jumlah maksimal 2.000 jamaah. Republika/Thoudy Badai Foto: Republika/Thoudy Badai Umat muslim melaksanakan shalat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/4). Masjid Istiqlal kembali menggelar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pada 1 Ramadhan 1442 Hijriah dengan menerapkan protokol kesehatan serta pembatasan jumlah maksimal 2.000 jamaah. Republika/Thoudy Badai

Renovasi Masjid Istiqlal yang masih berjalan buat kapasitas tak mungkin ditambah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasarudin Umar, mengatakan Masjid Istiqlal Jakarta dibuka bagi jamaah yang hendak melaksanakan ibadah tarawih di bulan Ramadhan. Jamaah Istiqlal namun dibatasi hanya 2.000 jamaah atau hanya satu persen dari total kapasitas masjid yang dapat menampung 250 ribu jamaah.

Nasruddin menjelaskan, mengacu ketentuan 50 persen dari total kapasitas jamaah, maka Masjid Istiqlal bisa menampung 125 ribu. Namun pertimbangannya, 125 ribu jamaah itu akan melewati tangga yang sama dan pintu yang terbatas.

Sebab, renovasi Masjid Istiqlal saat ini masih berlangsung dan pada tahap perbaikan wilayah luar. "Otomatis pintu utama, timur, selatan itu belum dibuka jadi yang dibuka baru pintu yang utara peluang itu berkerumun ada karena itu kita terpaksa membatasi, meksipun kuota kita 50 persen tapi kita terima jamaah satu persen dari 200 ribu, kita hanya terima 2000 orang," kata Nasarudin dalam dialog virtual bertajuk 'Protokol Kesehatan Bulan Ramadhan', Jumat (16/4).

Selain itu, Nazarudin mengatakan protokol kesehatan di Masjid Istiqlal lebih ketat dibandingkan aturan yang ditetapkan Pemerintah DKI kepada masjid-masjid di wilayah DKI. Di antaranya, jarak fisik jamaah yakni 1,5-2 meter, tempat wudlu dengan kapasitas 200 ribu orang digunakan untuk 2.000 orang, berikut tempat parkiran.

"Jadi tidak ada masalah, tidak ada isu di penitipan sandal parkir, salah satu isu kami itu ya di pintu masuk itu karena pintu lain kami tutup karena masih renovasi, tiga kali simulasi kita hanya dimungkinkan buka 2.000 orang, kalau sudah 2.000 orang kita tutup, dan ada pemberitahuan dengan spanduk sudah penuh," ujar Nasarudin.

Selain itu, selama Ramadhan tahun ini, Masjid Istiqlal meniadakan buka puasa, sahur maupun itikaf bagi para jamaah untuk menghindari penularan virus Covid-19. Sebab, makan bersama menjadi salah satu potensi terjadinya penularan, sedangkan itikaf membuat jamaah lebih lama di Masjid yang membutuhkan pengawasan terhadap jamaah lebih ekstra.

Sedangkan, jumlah petugas keamanan di Masjid Istiqlal terbatas. Selain itu, Masjid Istiqlal juga akan disemprot sebelum maupun sesudah digunakan  sehingga jamaah tidak boleh terlalu lama di masjid.

"Makanya kita umumkan jauh jauh hari, Istiqlal belum menerima itikaf sampai hari ini tetap konsisten, setiap abis tarawih langsung disemprot jadi tidak boleh lama lama di Istiqlal, bacaan imam dipendekkan, doa doa juga serba dipendekkan," ungkapnya.

Menurutnya juga, protokol kesehatan yang ketat di Masjid Istiqlal diharapkan menjadi contoh bagi masjid masjid lainnya menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Ia pun berharap masjid masjid lainnya juga menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

"Kami menampilkan the new Istiqlal untuk menjadi contoh model masjid di Indonesia bahkan internasional," ujarnya.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X