Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Biden Sambut Suga Sebagai Tamu Negara Pertama

Jumat 16 Apr 2021 14:50 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga.

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga.

Foto: AP/Sadayuki Goto/Kyodo News
Pertemuan ini menunjukkan pentingnya Tokyo dalam strategi AS hadapi China.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON --Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga sebagai kepala negara pertama yang mengunjunginya sebagai presiden. Pertemuan ini menekankan pentingnya peran Tokyo pada strategi AS dalam menghadapi China.

Salah seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan pertemuan satu hari itu diharapkan mendorong kedua negara mendiversifikasi rantai pasokan yang dianggap terlalu bergantung pada Cina. Serta menegaskan kembali komitmen Jepang sebesar 2 miliar dolar untuk bekerja sama dengan AS mencari alternatif jaringan 5G yang dikembangkan perusahaan China Huawei.

Pejabat AS itu mengatakan dalam pertemuan Jumat (16/4) Biden dan Suga diperkirakan akan membahas isu hak asasi manusia di China. Termasuk situasi di Hong Kong dan Xinjiang.

Pejabat yang tidak bersedia namanya disebutkan itu menambahkan pertemuan Biden-Suga juga diharapkan menghasilkan pernyataan resmi mengenai Taiwan. Pasalnya tekanan Beijing terhadap pulau demokratis tersebut terus meningkat.

Pernyataan itu akan menjadi pernyataan gabungan pertama AS-Jepang mengenai Taiwan sejak 1969. Tapi tampaknya tidak sesuai dengan harapan Washington pada Suga yang mewarisi kebijakan untuk menyeimbangan antara keamanan dan ekonomi dengan China.

Pemerintah AS dan Jepang telah menggelar pertemuan bulan Maret lalu. Dalam pernyataaan usai tersebut Washington dan Tokyo mengatakan kedua belah pihak menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan 'sangat prihatin' dengan pelanggaran hak asasi manusia di Hong Kong dan Xinjiang.

Pejabat pemerintah AS mengatakan kedua negara tidak ingin meningkatkan ketegangan atau memprovokasi China. Tetapi mereka ingin mengirim pesan tegas langkah Beijing mengirimkan pesawat tempur ke zona pertahanan udara Taiwan tidak sesuai dengan upaya menjaga perdamaian dan stabilitas.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA