Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Peternak: Harga Ayam Stabil di Kisaran Acuan Pemerintah

Jumat 16 Apr 2021 14:17 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

 Ayam dipelihara di kandangnya di peternakan unggas. ilustrasi

Ayam dipelihara di kandangnya di peternakan unggas. ilustrasi

Foto: EPA-EFE/SANJEEV GUPTA
Harga bibit ayam naik menjadi Rp 7.500 per kg dari harga normal Rp 4.500 per kg.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peternak ayam menuturkan harga livebird atau ayam hidup dari peternakan masih stabil di kisaran harga acuan pemerintah. Stabilitas harga dicapai setelah upaya pemangkasan produksi di perusahaan pembibitan yang dilakukan setiap pekan sejak Oktober 2020.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah, Pardjuni, mengatakan, harga livebird masih di kisaran Rp 21 ribu-Rp 22 ribu per kilogram (kg) sementara biaya produksi saat ini sekitar Rp 19 ribu per kg.

Adapun harga acuan daging ayam di tingkat peternak berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 sebesar Rp 19 ribu-Rp 20 ribu per kg. Dengan kata lain, peternak mulai mendapatkan keuntungan setelah mengalami kerugian akibat anjloknya harga dalam dua tahun terakhir.

Baca Juga

"Harga (jual) cukup lumayan bisa di atas biaya produksi. Secara stok juga aman. Namun memang kendala saat ini ada kenaikan harga bibit dan pakan unggas," kata Pardjuni kepada Republika.co.id, Jumat (16/4).

Ia mengatakan, harga pakan saat ini sekitar Rp 7.500-Rp 8.000 per kilogram, naik dari acuan pemerintah sebesar Rp 6.000 per kg. Adapun harga day old chick (doc) atau bibit ayam juga naik menjadi Rp 7.500 per kg dari harga normal Rp 4.500 per kg. Komponen tersebut lantas menaikkan biaya produksi, namun beruntung harga jual bisa melebihi biaya produksi.

Pardjuni mengatakan, potensi turunnya harga masih bisa terjadi. Sebab, hingga saat ini pemerintah belum mengeluarkan surat edaran kepada perusahaan pembibitan unggas untuk memangkas produksi. Tanpa ada pemangkasan produksi yang rutin dilakukan, harga bisa kembali anjlok.

"Bahkan bisa jauh di bawah biaya produksi. Mudik sudah dilarang berarti menghambat perputara uang, lalu kalau pemangkasan tidak dilakukan saya pastikan harga tidak akan bagus," kata Pardjuni.

Sementara itu, Ketua Pinsar Jawa Barat, Mukhlis, mengatakan, biaya produksi ayam di Jawa Barat sekitar Rp 18.300-Rp 19 ribu per kg. Senada dengan di Jawa Tengah, biaya produksi itu cukup tinggi karena biaya sarana dan prasaran produksi peternak mengalami kenaikan harga.

Adapun harga jual ayam hidup dari peternak di kisaran Rp 22.500-Rp 23.500. Meski melebihi batas atas acuan pemerintah, pihaknya berharap agar harga ayam bisa dikisaran Rp 20 ribu. "Sampai akhir puasa kita harap harga bisa sesuai Rp 19 ribu-Rp 20 ribu per kg atau Rp 20 ribu-Rp 21 ribu per kg agar ada untung peternak jika biaya produksi sudah Rp 19 ribu per kg," kata dia.

Stabilitas harga ayam di tingkat peternak berbanding terbalik dengan di tingkat konsumen. Tren harga ayam di pasar tradisional mulai mengalami kenaikan signifikan sejak menjelang masuknya bulan Ramadhan.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) pada Jumat (16/4), mencatat, rata-rata harga ayam ras segar secara nasional sebesar Rp 37.750 per kg. Di wilayah DKI Jakarta, harga ayam tembus hingga Rp Rp 41.650 per kg. Harga tertinggi terdapat di Nusa Tenggara Timur yang menyentuh Rp 53.100 per kg.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI), Ngadiran, mengatakan, khusus kenaikan harga daging ayam di pasar tradisional mulai terjadi sejak dua pekan yang lalu. Harga normal yang sebelumnya berkisar Rp 28 ribu-Rp 32 ribu per kilogram (kg) terus naik hingga Rp 38-Rp 40 ribu per kg.

"Jadi daging ayam naiknya sangat tinggi. Itu tentu yang disalahkan mesti pedagang pasar. Saya menyatakan tidak, karena pedagang beli dari sumber sudah naik," kata Ngadiran kepada Republika.co.id, Selasa (13/4).

Ngadiran mengatakan, hingga saat ini harga daging ayam masih bertengger pada level Rp 40 ribu per kg di tingkat konsumen. Pedagang, kata Ngadiran, hanya mengambil keuntungan berkisar Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu per kg.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA