Mengenal Keberagaman Hidangan Ramadhan Muslim Amerika

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

 Jumat 16 Apr 2021 12:11 WIB

Karyawan masjid tertua di Amerika melayani makanan bagi para pengungsi muslim Foto: AP / Andre Penner Karyawan masjid tertua di Amerika melayani makanan bagi para pengungsi muslim

Muslim Amerika tidak hanya berasal dari negara Arab atau Asia Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Bagi umat Islam, datangnya bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang berkah. Selama Ramadhan, mereka mendedikasikan waktunya untuk beribadah, seperti menunaikan ibadah puasa. Mereka menahan lapar dan haus dari fajar hingga senja. Kemudian ketika datangnya waktu berbuka, terkadang pilihan menu makanan bisa menjadi lama dan rumit. Stereotip menu makanan Muslim biasanya adalah sepiring nasi dan daging.

Muslim Amerika tidak hanya berasal dari negara Arab atau Asia Selatan. Tapi ada juga yang berasal dari kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. Hampir 30 persen Muslim di AS adalah orang Asia, sementara seperlima berkulit hitam. Jadi, ketika membicarakan soal menu masakan Ramadhan, bisa dibayangkan akan ada banyak jenis yang mewakili dari banyak budaya dan tradisi.

Ahli Gizi sekaligus pendiri the Healthy Muslims, Nazima Qureshi mengatakan komunitas agama diciptakan oleh para pemangku kepentingan di masjid. “Seringkali, basisnya etnis jadi Anda akan memilih masjid yang dipimpin oleh Asia Selatan dan masjid Timur Tengah,” kata Qureshi, dilansir Vox, Jumat (16/4).

Muslim berasal dari begitu banyak budaya yang berbeda. Jadi, dia mencoba menggabungkan banyak rasa yang berbeda untuk mencerminkan komunitas Muslim secara akurat. Misal, di keluarganya, Ramadhan adalah waktu untuk bereksperimen dengan beragam hidangan.

“Saya berasal dari latar belakang campuran Afrika Utara, Pakistan, dan Quebec. Saat berbuka puasa saya bisa sajikan sup tajine dan keesokan harinya makan ayam kurma,” ujar dia.

Untuk menelusuri lebih lanjut soal keberagaman makanan, perlu menanyakan ke beberapa warga AS lain. Sahla Denton (21 tahun) yang tinggal di Cottage Grove, Oregon merupakan keturunan setengah Meksiko dan Jamaika. Selama hidupnya, dia tumbuh dengan dua budaya itu. Sayangnya, hidangan Meksiko dan Jamaika kebanyakan tidak halal sehingga dia harus menyesuaikan. Contohnya, mengganti beberapa bahan tidak halal dengan bahan halal.

Pada Ramadhan kali ini, salah satu makanan yang disantap adalah escovitch, hidangan Jamaika yang terbuat dari ikan dan diberi bawang Bombay, wortel, dan paprika yang dilumuri cuka.

Sementara itu, bagi Dawood Yasin (51) yang tinggal di Berkeley, California Ramadhan adalah momen untuk beribadah ekstra. Di Ramadhan kali ini, dia akan berbuka puasa dengan kurma dan kaldu tulang. Namun, itu tidak membuat hobi memasaknya pudar.

“Keluarga saya berasal dari Kepulauan Cape Verde di lepas pantai Senegal dan kami memiliki makanan tradisional seperti jag (kacang-kacangan dan nasi). Tapi selama dua tahun terakhir, saya telah mencurahkan energi dan niat untuk barbekyu Amerika,” kata Yasin.

Sejak 25 tahun lalu ketika dia menjadi mualaf, dia tidak bisa makan barbekyu karena makanan itu tidak halal. Sajian makanan ketika berbuka di masjid dipenuhi makanan khas Mediterania atau Asia Selatan, seperti ayam panggang, roti jagung, biryani, dan kebab. Ini membuat Yasin ingin memperkenalkan ke banyak orang tentang membuat masakan yang tidak halal menjadi halal.

“Saya melihat makanan sebagai ungkapan cinta kepada keluarga saya. Karena jika saya mencintaimu, maka saya akan memastikan bahwa bentuk protein, sayuran, dan makanan terbaik secara umum adalah yang saya sajikan untuk Anda,” ujar dia. Dia mulai ide ini dengan unggahan tagar #getyourownhalal di media sosial dan mendapat tanggapan yang luar biasa.

Saat orang-orang menyukai makanan gurih, Seba Ismail (19 tahun) di Boston, Massachusetts lebih menyukai makanan penutup. Ketika Ramadhan tiba, ibunya yang berasal dari Mesir membuat atayef, pangsit manis berisi krim. Ismail mengaku hanya bisa menikmatinya ketika Ramadhan datang.

“Saya biasa memintanya untuk membuat atayef saat hari ulang tahun. Tapi dia akan selalu berkata ‘tidak, kamu harus menunggu sampai Ramadhan.’ Jadi, sebagai anak saya, akan selalu sangat bersemangat ketika Ramadhan dimulai,” kata Ismail.

Sayangnya, tahun ini dia tidak bisa menikmatinya karena harus menghabiskan waktu Ramadhan di kampus di Pennsylvania. Dia mengatakan, tahun ini Ramadhan seperti ujian. Sebelumnya, dia beribadah selama Ramadhan karena ajakan keluarga atau teman ke masjid. Namun, tahun ini berbeda dan dia hanya sendiri. Tak ada yang menyuruhnya atau mengajaknya untuk beribadah.

“Sekarang hanya saya sendiri dan itu cukup keren untuk menjalin hubungan spiritual dari hati kepada Tuhan,” ujar dia.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X