WHO Khawatir Covid-19 akan Memburuk Selama Ramadhan

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Esthi Maharani

 Kamis 15 Apr 2021 15:43 WIB

Pasien positif Covid-19 Foto: www.freepik.com. Pasien positif Covid-19

WHO khawatir Covid-19 dapat memburuk di Timur Tengah dan Afrika Utara selama Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA--Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyatakan kekhawatirannya bahwa pandemi Covid-19 dapat memburuk di Timur Tengah dan Afrika Utara selama bulan Ramadhan. Kepala WHO untuk Mediterania timur, Ahmed al-Mandhari mengatakan kasus infeksi Covid-19 yang terdeteksi di wilayah itu naik 22 persen pekan lalu, sementara kematian naik 17 persen.

Mandhari mengatakan situasi di wilayah yang luas itu mencerminkan tren yang mengkhawatirkan. “Kami sangat khawatir bahwa situasi saat ini dapat memburuk selama Ramadhan jika orang tidak mengikuti dan mematuhi langkah-langkah sosial yang terbukti berhasil,” katanya dalam konferensi pers online dilansir dari Alarabiya, Rabu (14/4).

Ramadhan, salah satu dari lima rukun Islam, dimulai di sebagian besar negara Muslim pada hari Selasa. Umat ​​Muslim yang taat menahan diri dari makan dan minum dari fajar hingga senja, dan secara tradisional berkumpul dengan keluarga dan teman untuk berbuka puasa di malam hari.

“Tahun ini, seperti tahun lalu, orang mungkin merasa semangat Ramadhan berubah karena social distancing dan lockdown. Tapi tindakan yang perlu dipertahankan untuk membantu mengatasi pandemi sejalan dengan prinsip dasar Islam: jaga kesehatan fisik Anda dan jangan menyakiti orang lain,”ujarnya.

Dalia Samhouri, Kepala regional kesiapsiagaan darurat WHO, mengatakan organisasi internasional tersebut ingin negara-negara melakukan penilaian risiko untuk mencegah penyebaran infeksi. Dia menyarankan tindakan yang dapat diambil di sekitar masjid selama Ramadan, termasuk menjaga jarak fisik, ventilasi, dan desinfeksi rutin. Orang yang merasa sakit disarankan tinggal di rumah, bersama orang tua dan penderita penyakit kronis, katanya.

Mandhari mengatakan semua negara di kawasan itu telah menerima vaksin, tetapi yang memiliki akses paling terbatas adalah Yaman dan Suriah. “Meskipun kemajuan telah dicapai dengan memulai vaksinasi di seluruh dunia, masih terdapat ketidakseimbangan yang mengejutkan dalam distribusi vaksin,” katanya.

Di Yaman, di mana sekitar 14 juta dosis dijanjikan melalui program Covax yang bertujuan untuk memastikan akses yang adil ke vaksinasi Covid-19, hanya 360.000 yang telah dikirimkan.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X