Kamis 15 Apr 2021 15:03 WIB

Kamboja Berlakukan Lockdown di Ibu Kota

Kamboja mengalami kenaikan kasus Covid-19 hingga 10 kali lipat dalam dua bulan

Red: Nur Aini
 Seorang pria memindai sistem kode QR di sebuah restoran di Phnom Penh, Kamboja, 02 Maret 2021. Otoritas kesehatan Kamboja meluncurkan sistem Kode QR
Foto: EPA-EFE/MAK REMISSA
Seorang pria memindai sistem kode QR di sebuah restoran di Phnom Penh, Kamboja, 02 Maret 2021. Otoritas kesehatan Kamboja meluncurkan sistem Kode QR

REPUBLIKA.CO.ID, PHNOM PENH -- Kamboja pada Kamis (15/4) menerapkan karantina wilayah (lockdown) Covid-19 di Phnom Penh dan distrik satelit ibu kota guna mencegah lonjakan kasus di negara yang sampai kini sebagian besar berhasil mengendalikan infeksi.

Berdasarkan kebijakan karantina, yang diumumkan Perdana Menteri Hun Sen pada Rabu malam (14/4), mayoritas masyarakat dilarang keluar rumah kecuali untuk pergi bekerja, membeli makanan atau berobat. Pada Kamis, pos pemeriksaan polisi di Phnom Pehn meminta para pengendara motor untuk memperlihatkan surat dinas dan kartu identitas agar bisa melintas, seperti yang disaksikan di tayangan televisi media setempat.

Baca Juga

Melalui pesan suara yang diunggah di akun Facebook miliknya, Hun Sen memperingatkan bahwa Kamboja berada di ambang "lembah kematian" dan meminta masyarakat agar bersama-sama menghindari bencana.

"Tujuan dari karantina yakni untuk memerangi penyebaran Covid-19 dan penutupan ini bukanlah cara untuk membuat rakyat mati atau sengsara," katanya.

Negara Asia Tenggara itu masih menjadi salah satu negara dengan beban kasus virus corona terkecil di dunia. Akan tetapi, wabah yang dimulai sejak akhir Februari menyebabkan lonjakan kasus hingga 10 kali lipat menjadi 4.874 dalam dua bulan.

Beberapa jam sebelum karatina wilayah, pesan Hun Sen bocor ke media sosial, sehingga memicu panic buying di kalangan warga Phnom Peh dan daerah terdekat Takhmau, tempat karantina diberlakukan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement