Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

IAEA: Iran Hampir Siap Memperkaya Uranium Hingga 60 Persen

Kamis 15 Apr 2021 12:47 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

Iranian Presidency Office/AP Photo/picture alliance

Iranian Presidency Office/AP Photo/picture alliance

Hingga saat ini, Iran telah memperkaya uranium hingga 20 persen.

Persiapan Iran meningkatkan produksi uranium yang diperkaya tinggi secara signifikan hampir selesai, demikian disampaikan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pada Rabu (14/4).

Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi membenarkan hal tersebut dengan mengatakan, "Iran sudah hampir menyelesaikan persiapan untuk mulai memproduksi UF6 yang diperkaya hingga 60 persen, yakni U-235.‘‘

Pernyataan itu ia sampaikan usai memeriksa fasilitas nuklir utama Iran, Natanz.

Penolakan internasional

Jerman, Prancis, dan Inggris telah menjelaskan kepada Iran, mereka tidak dapat menerima langkah negara itu meningkatkan pengayaan uranium.

"Produksi uranium yang diperkaya tinggi merupakan hal penting dalam produksi senjata nuklir. Iran tidak memiliki kredibilitas kebutuhan sipil untuk pengayaan di tingkat ini," ujar ketiga menteri luar negeri Eropa tersebut dalam sebuah pernyataan pada Selasa (13/4).

Pengumuman Iran yang datang awal pekan ini tentang peningkatan pengayaan uraniumnya memicu "kekhawatiran serius", menurut pernyataan bersama tersebut.

Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) sebelumnya mengatakan, uranium yang diperkaya akan digunakan untuk tujuan medis.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan pada Rabu (14/4) bahwa pengayaan yang sedang berlangsung tidak boleh mengabaikan pembicaraan internasional yang meminta Iran mengacu pada perjanjian nuklir Wina 2015.

"Bahkan jika sekarang kami ingin memperkaya uranium hingga 60 persen, kami tetap terbuka dengan negosiasi ... bahkan dengan AS," ujar Rowhani.

"Setelah para pihak menerapkan perjanjian Wina sesuai dengan kesepakatan dan sanksi AS dicabut, Iran akan kembali mengikuti semua kewajiban teknisnya berdasarkan kesepakatan pada hari yang sama," bunyi kutipan pernyataan Rowhani dari situs web kantor kepresidenan.

Hingga saat ini, Iran telah memperkaya uranium hingga 20 persen, meskipun kesepakatan nuklir yang dibuat pada 2015 bersama negara-negara besar hanya memungkinkan Teheran memperkaya uranium hingga kemurnian 3,67 persen. Uranium yang diperkaya rendah biasanya digunakan untuk tenaga nuklir, sedangkan yang diperkaya tinggi hingga 90 persen dapat digunakan untuk memproduksi senjata atom.

Ini adalah salah satu dari banyak batasan yang dilanggar oleh Iran lebih dari setahun yang lalu sebagai respons atas keputusan mantan Presiden Donald Trump menarik AS dari Kesepakatan Nuklir dan penerapan sanksi AS terhadap Teheran.

AS dan Iran akan mengadakan pembicaraan yang bertujuan menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 pada Kamis (15/4) di Wina, kata sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki.

Respons atas serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran

Sebelumnya Presiden Hassan Rowhani mengatakan bahwa keputusan pemerintah Iran untuk meningkatkan pengayaan uranium menjadi 60% adalah respons atas serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz pada akhir pekan lalu. Iran menuduh Israel sebagai dalang dibalik penyerangan itu dan menyebutnya sebagai upaya untuk menyabotase negosiasi di Wina.

Tim pemeriksa dari IAEA sejak itu mengunjungi Natanz, dan mengatakan pada Rabu (14/4) pagi bahwa mereka akan "terus melapor ke dewan gubernur terkait perkembangan yang relevan mengenai program nuklir Iran."

Pembicaraan nuklir seharusnya dilanjutkan di Wina pada Rabu (14/4), namun ditunda hingga Kamis (15/4), karena salah satu diplomat Barat diduga positif virus corona.

pkp/gtp (Reuters, dpa)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA