Ahli: Pemerintah Malaysia Perlu Larang Warga Mudik Lebaran

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

 Kamis 15 Apr 2021 12:17 WIB

Mudik Lebaran di Malaysia (ilustrasi) Foto: Antara/Septianda Perdana Mudik Lebaran di Malaysia (ilustrasi)

Malaysia dinilai perlu larang warganya mudik lebaran.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR – Tingkat infeksi Covid-19 Malaysia telah meningkat dalam beberapa hari terakhir di awal Ramadan. Untuk itu para ahli meminta pihak berwenang untuk melarang mudik lebaran di tahun kedua lebaran di masa pandemi ini untuk mencegah lonjakan kasus baru.

Dilansir di Straits Times, Kamis (15/4), Pemerintah Malaysia justru melakukan pelonggaran dengan untuk bulan puasa Muslim, termasuk mengizinkan bazar makanan Ramadhan dan layanan shalat Isya di masjid, hingga membiarkan restoran buka hingga jam 6 pagi. Hingga saat ini, Pemerintah Malaysia belum membuat keputusan apakah akan mengizinkan mudik lebaran tahun ini bagi warga.

Dilaporkan bahwa jumlah kasus Covid-19 harian tetap di atas 1.000 tahun ini. Direktur Pusat Penelitian dan Pendidikan Penyakit Menular Tropis di Universiti Malaya, Sazaly Abu Bakar, merekomendasikan bahwa ada baiknya Malaysia masih melakukan pengetatan mobilisasi. Pembatasan perjalanan menurut dia akan membawa dampak yang lebih besar bagi penyebaran Covid-19.

Baca Juga

“Dua gelombang besar penyebaran terakhir dikaitkan dengan perjalanan perbatasan terbuka. Tetapi kebijakan pembatasan tentunya akan membuat banyak orang kesal,” kata dia.

Sementara kegiatan bazar dan masjid dipantau untuk memastikan kepatuhan protokol kesehatan, kunjungan ke kota asal biasanya dikaitkan dengan pertemuan sosial di mana orang melepas masker mereka. Profesor dan Ahli Epidemiologi serta Ahli Biostatistik di Universitas Putra Malaysia Malina Osman mengatakan bahwa mudik lebaran tahun ini harus ditangguhkan.

"Melihat angka-angka saat ini, saya pikir perjalanan antarnegara bagian harus ditunda sampai kami memiliki satu hingga dua digit kasus baru dan kami memiliki sejumlah besar orang yang divaksinasi," kata dia.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah, mengatakan bahwa angka 1,09 pada Selasa, naik dari 1,06 dibandingkan Ahad. Adapun pada Februari, angka penyebaran mencapai 0,89. Untuk itu, kata dia, Malaysia harus menurunkan tingkat infektivitas menjadi 0,8 untuk menurunkan kasus harian menjadi 500.

Menambah tantangan ini adalah fakta bahwa, seperti kebanyakan negara, Malaysia menghadapi kelelahan akibat pandemi. “Saya benar-benar khawatir tentang pembukaan bazar, dan khawatir kluster akan muncul,” kata Konsultan Kesehatan Bob Azraai.

Dia menyadari bahwa hampir seluruh warga Malaysia mengalami kebosanan dan membutuhkan mobilisasi agar dapat menghilangkan stres. Namun demikian, perjalanan keluar guna mencegah ataupun menghilangkan stres dapat dilakukan dengan melakukan aktivitas yang beresiko rendah. Seperti berjalan-jalan di taman dengan jarak yang cukup jauh antara satu orang dengan lainnya.

Sebagaimana diketahui, Malaysia memulai program vaksinasi pada akhir Februari tetapi tingkat penerimaan yang sangat rendah yang mengkhawatirkan mengarah pada peringatan dari Menteri Senior Keamanan Ismail Sabri Yaakob. Bahwa gelombang infeksi keempat dimungkinkan sudah dekat.

Hanya sekitar sepertiga dari populasi yang telah mendaftar untuk vaksin tersebut, dengan 417.470 orang telah menerima kedua dosis tersebut pada hari Selasa. Sebanyak 632.668 atau di bawah dua persen dari hampir 33 juta populasi telah menerima dosis pertama. Adapun target pemerintah adalah menginokulasi 80 persen populasi pada akhir tahun untuk mencapai kekebalan kawanan.

Terkait pembukaan sektor ekonomi ketika angka Covid-19 tetap tinggi, Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengatakan pemerintahannya tidak mampu menempatkan negara dalam mode kuncian yang lebih lama.

“Kami tidak punya banyak uang lagi. Kami tidak punya sebanyak sebelumnya, yang terpenting bagi kami adalah memastikan mata pencaharian kami, kami harus bisa mengatur diri dengan lebih baik,” kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Play Podcast X