Puasa dan Pandemi Covid-19 Menguji Kualitas Ketaqwaan

Red: Muhammad Fakhruddin

 Kamis 15 Apr 2021 04:24 WIB

Puasa dan Pandemi Covid-19 Menguji Kualitas Ketaqwaan. Ilustrasi Takwa/taqwa Foto: Pixabay Puasa dan Pandemi Covid-19 Menguji Kualitas Ketaqwaan. Ilustrasi Takwa/taqwa

Puasa mendidik seorang hamba agar memiliki karakter cinta, lembut dan kasih sayang.

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Fadli Ferryansyah*

Ramadhan merupakan penuh bulan keistimewahan, dalam beberapa kitab tarikh tasyrik disebutkan, Ramadhan bukan hanya sebagai salah satu rukun dalam Islam yang ritus keagamaannya wajib ditunaikan oleh seorang muslim. Akan tetapi, pada bulan ini mengandung pesan-pesan penting untuk umat manusia. Di antaranya adalah kita dapat memaknai ibadah puasa sebagai upaya penegasan seorang Muslim untuk menjaga dan memelihara persahabatan dalam komitmen kemanusiaan.

Ibarat madrasah, di bulan suci ini umat muslim menyambut bulan ini dengan penuh kegembiraan, sebab Ramadhan memiliki silabus yang bisa menuntun manusia agar menjadi orang-orang yang bertakwa (La’ allakum tattakun). Namun, semenjak virus Covid 19 merebak, kegembiraan menyambut bulan Ramadhan seakan mulai surut. Pasalnya, pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan ritual khas Ramadhan seperti beribadah di masjid dan buka puasa bersama hingga mudik tidak dapat dilaksanakan.

Dalam Ilmu Fikih, secara etimologi puasa sunnah maupun wajib berarti menahan. Sedangkan secara terminologi puasa adalah menahan makan dan minum serta berhubungan suami istri dari terbit hingga terbenamnya matahari. Berangkat dari dua definisi tersebut, bahwa substansi dari puasa ialah menahan dan dan mengendalikan segala nafsu yang dapat merusak diri sendiri maupun tatanan moral sosial masyarakat tertentu. 

Qs. Al-Baqarah ayat 183 sebagai sandaran dalil kewajiban berpuasa mengungkapkan bahwa, tujuan daripada pengsyariatan puasa bagi orang-orang beriman adalah agar mereka menjadi hamba yang bertakwa. Menguji ketakwaan seseorang tidak hanya diukur dari jidat hitam seorang hamba. Namun dampak dari semakin berkualitas ketakwaan seseorang adalah bagaimana komitmennya terhadap kemanusiaan. Maka pada posisi ini ibadah puasa mendidik seorang hamba agar memiliki karakter cinta, lembut dan kasih sayang, bukan hanya sebagai bulan pelebur dosa melainkan menjadikan seseorang insan yang senantiasa halus tutur kata dan budi pekertinya.  

Layaknya madrasah, Ramadhan merupakan momentum yang baik dalam memupuk nilai kemanusiaan. Sehingga sifat dengki, angkuh, kebencian dan kekerasan lenyap terbakar di bulan ini. Seorang hamba yang berpuasa diharapkan kembali menjadi manusia otentik yang berbudi pekerti. Juga kesalehan spritual yang berlipat ganda harus ditransformasikan menjadi kesalehan sosial yang berpihak pada cinta kasih kemanusiaan. 

Pelaksaan ibadah puasa di masa pandemi memang tak bisa diprediksi, di satu sisi mempengaruhi kondisi sosio-kultural dengan tidak bisa mudik ke kampung halaman. Disisi lain juga mempengaruhi pelaksanaan ibadah I’tikaf . ibadah I’tikaf lazimnya untuk menjemput malam Laitul Qadr yang akan turun pada sepuluh hari hari terakhir pada bulan Ramadhan. Pada kesempatan inilah umat muslim dianjurkan untuk beritikaf. i’tikaf merupakan aktifitas seorang hamba menjauhi keramaian dan berdiam diri di dalam masjid dalam rangka beribadah  dan melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.  i’tikaf pada dasarnya tidak hanya dianjurkan pada sepuluh hari terakhir ramadhan saja, melainkan pada setiap waktu.

Baca juga : Menahan Lapar Saat Puasa Ramadan Cegah Gangguan Setan

Namun, ibarat memakan buah simalakama, boleh dan tidaknya pelaksanaan ibadah I’tikaf akan berdampak ke segala hal. Bila tidak melaksanakaannya di masjid, dikhawatirkan sepuluh hari terakhirnya kurang sempurna, dan bila tetap melaksanakannya dikhawatirkan rantai penyebaran Covid 19 tidak akan terputus. Melihat kondisi dan situasi ini, penulis merasa pembacaan ulang terhadap ketentuan pelaksanaan I’tikaf penting untuk dilakukan dengan menyandarkan kaidah fikih yang berbunyi: “Menolak segala yang merusak lebih diutamakan dari pada menarik segala yang bermanfaat”. ((دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِح. Wallahu A'lam Bishawab.

*Wakil Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X