Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Efek Samping Vaksin Covid-19 yang Jarang Diketahui

Rabu 14 Apr 2021 19:38 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

Efek samping dari vaksin Covid-19 yang umum diketahui, di antaranya, menggigil, sakit kepala, kelelahan, hingga nyeri otot.

Efek samping dari vaksin Covid-19 yang umum diketahui, di antaranya, menggigil, sakit kepala, kelelahan, hingga nyeri otot.

Foto: Antara/Umarul Faruq
Efek vaksinasi Covid-19 tak hanya menggigil hingga nyeri otot.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Efek samping dari vaksin Covid-19 yang umum diketahui, di antaranya, menggigil, sakit kepala, kelelahan, hingga nyeri otot. Namun ternyata ada efek yang jarang diketahui orang. 

Efek tersebut adalah siklus menstruasi pada wanita, yang dapat lebih awal atau terasa lebih berat dari biasanya. Setelah mendengar banyak laporan dari para wanita, Kate Clancy, PhD, seorang profesor di University of Illinois, mengajak rekannya Katherine Lee, PhD, melakukan studi formal tentang efek samping vaksin ini. Dia sudah menerima lebih dari 700 tanggapan mengenai menstruasi orang dan vaksin COVID, menurut laporan The Verge, dilansir Best Life, Selasa (13/4).

Efek samping ini belum dimasukkan dalam uji klinis vaksin sebelumnya. Dalam sistem pelacakan untuk efek samping dari CDC, yang disebut Sistem Pelaporan Peristiwa Buruk Vaksin (VAERS), telah ada setidaknya 32 laporan tentang periode yang diubah, yang merupakan persentase kecil dari sekitar 56.000 peserta.

Baca Juga

Lee, seorang peneliti di Divisi Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Washington, mengaku tidak terkejut bahwa efek samping ini tidak dipertimbangkan selama uji klinis untuk vaksin mana pun. Dia menunjukkan bahwa wanita tidak dilibatkan dalam uji klinis apa pun sampai tahun 1990-an dan mencatat beberapa bias.

"Ini bukan hal yang dipikirkan beberapa orang. Ini bukan bagian dari pengalaman hidup mereka sehari-hari," kata Lee. 

Kemungkinan stres
Hanya ada sedikit penelitian tentang bagaimana vaksin secara umum memengaruhi menstruasi, tetapi vaksin diketahui dapat menekan sistem kekebalan, dan siklus menstruasi terkadang dapat merespons perubahan semacam itu. "Siklus menstruasi benar-benar dinamis, dan merespons banyak hal," kata Lee.

Gloria A Bachmann, MD, dekan untuk kesehatan wanita di Sekolah Kedokteran Rutgers Robert Wood Johnson, mengatakan siklus menstruasi dapat diubah atau dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk stres, kurang tidur, olahraga, dan beberapa pengobatan. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh bagi beberapa wanita jika mengalami perubahan siklus mens.

Namun menurut Clancy, kemungkinan ada juga hubungan antara partikel nano dalam vaksin dan perubahan pola perdarahan, yang mengakibatkan periode yang lebih berat atau lebih awal. Nanopartikel dapat menciptakan reaksi kekebalan sementara pada beberapa orang yang membunuh trombosit, yang membantu pembekuan. Meskipun sel-sel ini sering beregenerasi, fenomena tersebut dapat terlihat selama peristiwa perdarahan, seperti menstruasi. 

Ini tidak berarti vaksin memengaruhi kesuburan. Clancy mencatat bahwa menstruasi yang berat seringkali merupakan sesuatu yang menimbulkan kekhawatiran. Jika studi formal memastikan bahwa itu adalah efek samping dari vaksin, maka dapat meredakan beberapa kekhawatiran bagi orang-orang yang mengalaminya setelah disuntik.

"Senang mengetahui bahwa itu bisa terjadi, dengan cara yang sama menyenangkan mengetahui bahwa Anda mungkin mengalami demam dan sakit kepala," kata Lee lagi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA