Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Ketum PAN Sebut Indonesia Kecanduan Impor Pangan

Rabu 14 Apr 2021 17:18 WIB

Red: Joko Sadewo

Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan, saat menyampaikan pidato politik.

Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan, saat menyampaikan pidato politik.

Foto: istimewa/doc humas
Indonesia cukup bergantung pada impor beras.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan menyampaikan pidato politik yang menyoroti fenomena banjir pangan impor di pasar Indonesia.  Indonesia mulai kecanduan impor pangan.

Dalam pidato tersebut Zulkifli Hasan menyayangkan 23 tahun reformasi belum berhasil memberikan Indonesia kesejahteraan, terutama kedaulatan pangan. Menurut Zulkifli, ini merupakan persoalan sangat serius, yang jika tidak ditangani dengan baik akan menyengsarakan rakyat.

“Dalam dua dekade terakhir, sejak reformasi 23 tahun lalu, Indonesia cukup bergantung pada impor beras dari Vietnam, Thailand, Tiongkok, Pakistan, Taiwan, hingga Myanmar,” kata Zulkifli, dalam siaran pers humas DPP PAN, Rabu (14/4).

Zulkifli yang juga Wakil Ketua MPR RI ini berharap agar pemerintah dan semua pihak serius menyelesaikan persoalan impor pangan. Menurutnya, dalam kasus impor pangan pihak yang dikorbankan adalah rakyat kecil dan para petani lokal. "Ketergantungan kita pada pangan impor juga menunjukkan kegagalan kita sebagai bangsa mempersiapkan ketahanan pangan,” kata dia.

Dalam pidato politik bertajuk “Demokrasi Transaksional dan Ketergantungan Impor Pangan” itu, Zulhas juga menyebut bahwa setelah 23 tahun reformasi seharusnya reformasi memberi masyarakat kedaulatan, keadilan, kesejahteraan dan kesetaraan. Namun,  lanjutnya,  cita-cita itu masih jauh.

“Dalam 23 tahun kita justru masih dihimpit banyak persoalan, mulai dari kecanduan impor pangan yang menunjukkan tiadanya kedaulatan kita dalam bidang pangan, hingga belitan utang luar negeri yang nilainya terus meningkat tajam. Akibatnya, kesejahteraan rakyat jadi PR lama yang tak kunjung usai.” ungkap politikus tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA