Puasa Jadi Kanopi Diri dan Teras Rohani

Red: Yusuf Assidiq

 Seorang perempuan yang memakai masker sebagai antisipasi wabah virus Corona membaca kitab suci Alquran sambil menunggu waktu berbuka puasa di hari pertama Ramadhan, di sebuah masjid di Jakarta, Indonesia, Selasa, 13 April 2021
Seorang perempuan yang memakai masker sebagai antisipasi wabah virus Corona membaca kitab suci Alquran sambil menunggu waktu berbuka puasa di hari pertama Ramadhan, di sebuah masjid di Jakarta, Indonesia, Selasa, 13 April 2021 | Foto: AP/Tatan Syuflana

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Wahyu Suryana

Puasa sebagai ibadah mahdloh merupakan satu kewajiban yang wajib ditunaikan. Lewat al Baqarah 183, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman agar berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelumnya agar bertakwa.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir menilai, puasa membentuk pribadi takwa tentu tidak sekali jadi. Karenanya, setiap tahun berpuasa menurut ulama sebagai olah jiwa tahunan yang membentuk manusia semakin baik, semakin bertakwa.

"Saya mencoba meletakkan puasa sebagai kanopi, sebagai teras rohani kita agar dengan ketakwaan yang terus kita bangun melahirkan diri yang semakin bersih, suci lahir dan batin dalam makna puasa proses revolusi rohani," kata Haedar.

Hal itu disampaikan dalam pengajian Ramadhan yang digelar Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dan Lazismu. Ia menilai, puasa yang bisa membentuk kanopi diri merupakan puasa yang terintegrasi bukan hanya menahan diri dari biologis.

"Tapi juga menjadikan diri menjadi orang yang punya kemampuan memelihara, merawat, dan menjaga," ujar Haedar.

Dalam konteks ini, kata Haedar, puasa sendiri itu harus menjadi puasa lahir dan batin, satu rangkaian dengan ibadah yang lain seperti qiyamul lail, dan terkait kegiatan yang senantiasa disunnahkan Rasulullah SAW yaitu terus mencari ilmu.

Salah satunya membaca Alquran, mengimplementasikannya dalam kehidupan, dan saat Ramadhan juga diajari terus beramal saleh, termasuk bersedekah. Sehingga, puasa harus mampu memancarkan diri yang menjadi uswah khasanah dalam kehidupan.

"Ketika puasa diproyeksikan la allakum tattaqun atau agar kamu jadi orang yang bertakwa, bagaimana sifat takwa itu kita praktikkan. Apakah setelah puasa kita jadi semakin dermawan, jadi sabar tidak pemarah, atau pemaaf terhadap orang," kata Haedar.

Apalagi, melihat kenyataan Indonesia masih termasuk negara yang gawat korupsi dan narkoba, serta perceraian dan kekerasan anak dan perempuan yang tinggi. Ini menunjukkan belum ada korelasi positif ibadah dan dampaknya kesalehan sosial.

"Kita harus menjadi uswah hasanah dalam keselarasan kata dan tindakan, puasa dan seluruh nilai keislaman kita menjadi kekuatan ilmu yang mencerahkan, dan amaliah kita itu harus juga membawa kemajuan," ujar Haedar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Segitiga Kebahagiaan: Ramadhan, Alquran dan Takwa

Celah yang Rentan Dimasuki Iblis dalam Niat Puasa  

Bolehkah Makan Saat Imsak? Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad

Akankah Imunitas Terpengaruh Saat Vaksin ketika Berpuasa?

Puasa Pertama, Ini yang Dilakukan Mo Salah, Mane, dan Ozil

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark