Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Imbal Hasil Obligasi AS Masih Berpotensi Naik Terbatas

Rabu 14 Apr 2021 16:41 WIB

Red: Friska Yolandha

Pialang bekerja di Wall Street. imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) masih berpotensi naik. Namun, pergerakannya relatif terbatas.

Pialang bekerja di Wall Street. imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) masih berpotensi naik. Namun, pergerakannya relatif terbatas.

Foto: Colin Ziemer/New York Stock Exchange
Terbatasnya kenaikan imbal hasil dipengaruhi wacana kenaikan pajak AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senior Portfolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Samuel Kesuma menilai imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) masih berpotensi naik. Namun, pergerakannya relatif terbatas.

"Ke depannya imbal hasil obligasi AS masih dapat bergerak naik seiring dengan ekonomi AS yang membaik. Namun kami memandang kenaikannya akan lebih terbatas dan gradual," ujar Samuel melalui keterangan di Jakarta, Rabu (14/4).

Baca Juga

Terbatasnya kenaikan imbal hasil obligasi AS, lanjut Samuel, dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya yaitu wacana kenaikan pajak yang akan diajukan Pemerintahan Presiden Joe Biden.

Faktor berikutnya yaitu laju pemulihan yang cenderung lebih lambat dari ekspektasi seiring dengan risiko gelombang ketiga Covid-19 di beberapa kawasan. Terakhir adalah potensi meningkatnya pembelian obligasi AS oleh investor global seiring dengan imbal hasilnya yang telah naik ke level atraktif.

"Kenaikan imbal hasil obligasi AS yang lebih gradual akan mengurangi kekhawatiran pasar dan dapat mengembalikan sentimen investor global," kata Samuel.

Menurut dia, tingkat imbal hasil obligasi AS saat ini yang di kisaran 1,7 persen pun sebetulnya masih relatif rendah, karena dalam 10 tahun ke belakang rata-rata imbal hasil obligasi AS di kisaran 2 persen, sehingga level obligasi AS saat ini masih pada level yang wajar dan tetap suportif bagi pasar finansial.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif yaitu minus 4,11 persen pada Maret. Samuel menilai sentimen pasar dibayangi oleh kekhawatiran inflasi akan melonjak di AS karena proses vaksinasi yang berjalan baik dan adanya stimulus besar dari Presiden Joe Biden dapat mempercepat pemulihan ekonomi.

Seiring dengan inflasi yang meningkat maka dikhawatirkan The Fed juga akan ikut lebih cepat melakukan pengetatan kebijakan moneter untuk memitigasi lonjakan inflasi. Sentimen tersebut tercermin dari melonjaknya imbal hasil obligasi AS yang naik dari kisaran 0,9 persen pada akhir 2020 ke kisaran 1,7 persen pada akhir Maret 2021.

Obligasi AS merupakan instrumen penting dalam pasar finansial global karena digunakan sebagai acuan aset bebas risiko (risk-free) dan menjadi salah satu metrik acuan untuk berbagai instrumen finansial lain secara global.

Imbal hasil obligasi AS juga dapat mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter The Fed. Oleh karena itu melonjaknya imbal hasil obligasi AS menyebabkan ketidakpastian dan volatilitas di pasar finansial global.

"Dalam pandangan kami kenaikan imbal hasil obligasi AS saat ini mencerminkan ekspektasi pasar yang lebih positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Kami tidak melihat ancaman lonjakan inflasi dapat terjadi berkepanjangan di AS yang akan memaksa The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter," ujar Samuel.

Dalam beberapa kesempatan, Ketua Federal Reserve (Fed) Powell mengutarakan lonjakan inflasi bersifat sementara dan The Fed masih berkomitmen untuk menjaga kebijakan moneter akomodatif ke depannya. Ekonomi Amerika Serikat masih dalam tahap pemulihan dan tingkat pengangguran masih relatif tinggi pada level 6 persen, jauh dari level 3,5 persen sebelum pandemi, sehingga tekanan inflasi masih relatif lemah walau ada stimulus fiskal.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA