Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Dua Faksi Diklaim Bisa Ancam Soliditas PDIP

Kamis 15 Apr 2021 00:15 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Agus Yulianto

Pengamat Politik Khoirul Umam mengatakan, faksionalisme antara kekuatan dua anak Mega, Puan dan Prananda bisa mengintai soliditas PDIP ke depan.     faksionalisme antara kekuatan dua anak Mega, Puan dan Prananda bisa mengintai soliditas PDIP ke depan.

Pengamat Politik Khoirul Umam mengatakan, faksionalisme antara kekuatan dua anak Mega, Puan dan Prananda bisa mengintai soliditas PDIP ke depan. faksionalisme antara kekuatan dua anak Mega, Puan dan Prananda bisa mengintai soliditas PDIP ke depan.

Foto: Istimewa
Faksionalisme antara kekuatan dua anak Mega, bisa mengintai soliditas PDIP ke depan. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Politik Khoirul Umam mengatakan, ada kemungkinan besar terjadi dua faksionalisme di kekuatan inti PDIP pascabergantinya Megawati sebagai Ketum partai. Jika tidak diantisipasi, kata dia, faksionalisme antara kekuatan dua anak Mega, Puan dan Prananda bisa mengintai soliditas PDIP ke depan. 

"Terkait dengan itu, memang sudah saatnya PDIP melakukan regenerasi kepemimpinan," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (14/4). 

Megawati, lanjut Umam, harus bisa menjadi patron politik yang menjembatani proses transisi itu menjadi lebih stabil. Khususnya, agar tidak berimbas pada menguatnya faksionalisme dan konflik di internal keluarga trah Soekarno. 

"Secara kalkulasi politik, tentu Puan Maharani memiliki potensi lebih besar memenangkan kompetisi,  karena Puan sudah lama dan intensif tampil sebagai simbol dan wakil Megawati," katanya.

Hal itu, menurut dia, berbeda dengan Prananda. Terlebih, ketika Prananda selama ini cenderung mengindar tampil di hadapan publik. "Implikasinya, Puan memiliki basis jaringan dan akar politik yang lebih kuat di level pengurus PDIP di daerah, dibanding Prananda," ucap dia. 

Dalam masa transisi kepemimpinan, PDIP dinilai Umam, akan membutuhkan pemimpin muda yang memiliki otot politik yang lebih kuat. Sebab, masa-masa transisi ini akan terus dibayangi oleh manuver kekuasaan yang gemar mencari target untuk diterkam. Langkah itu ia sebut bisa dilakukan, guna mengambilalih kekuatan secara paksa jika infrastruktur politik yang telah mapan

"Sebagaimana yang terjadi di Partai Demokrat yang diincar oleh KSP Moeldoko yang selama ini tidak ada hubungan sama sekali dengan Partai Demokrat," ungkap dia. 

Umam menegaskan, hingga kini, belum ada tanda-tanda Megawati melepas restu politik. Sebagai ibu dari dua calon pemimpin PDIP, Mega, dia sebut, harus mengarahkan dan menjamin stabilitas politik di internal partainya. 

"Namun perlu diingat, proses peredaman itu belum tentu berhasil jika ada salah satu pihak yang tercongkel egonya. Pertentangan antar-ego inilah yang perlu diantisipasi awal dari konflik dan faksionalisme di internal PDIP," ucap dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA