Segitiga Kebahagiaan: Ramadhan, Alquran dan Takwa

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

 Rabu 14 Apr 2021 14:28 WIB

Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Ilustrasi Ramadhan

Ada segitiga kebahagiaan yang sangat penting, yaitu puasa, Alquran, dan takwa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Umat Islam di seluruh dunia sudah mulai menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Allah memberi tahu bahwa Ramadhan merupakan bulan yang diberkahi karena Alquran turun dalam bulan ini. Ada segitiga kebahagiaan yang sangat penting, yaitu puasa, Alquran, dan takwa.

Allah memberi tahu tanda-tanda cara mencapai takwa yang tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 187:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”

Muttaqin adalah mereka yang telah mencapai takwa dan memiliki pemahaman yang jelas tentang perintah-perintah Allah dalam Alquran. Mereka lebih peduli tentang akhirat daripada dunia ini. Orang-orang yang bertakwa menganggap kehidupan di dunia sebagai perjalanan singkat. Mereka mempersiapkan bekal yang matang untuk kehidupan di akhirat.

Ali bin Abi Thalib mendefinisikan takwa dengan berkata, “Takwa adalah takut kepada Yang Maha Esa, mengerjakan perintah-Nya, dan selalu bersiap untuk meninggalkan kehidupan ini.”

Dilansir About Islam, Rabu (14/4), takwa adalah tingkat kesadaran yang lebih tinggi dari Allah dalam segala aspeknya. Takut dan mencintai-Nya dan memiliki harapan tertinggi kepada-Nya di atas semua ciptaan-Nya adalah salah satu bentuk taqwa. Ketika seseorang mencapai tahap ini, dia dianggap sebagai orang yang shaleh. Tahap inilah yang membuat seseorang mendapatkan posisi yang paling terhormat di sisi Allah.

Pencapaian maqam muttaqi (orang yang memiliki takwa) adalah perjalanan seumur hidup dan tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja. Namun, waktu paling potensial dalam setahun adalah Ramadhan. Untuk mencapai takwa poin pertama yang harus didapat adalah keinginan untuk  lebih dekat dengan Allah. Tidak ada buku, panduan, guru atau kursus yang dapat membantu seseorang mencapai ketakwaan daripada Alquran.

Banyak Muslim mencoba membaca seluruh Alquran di bulan Ramadhan. Beberapa melakukannya bahkan tanpa memahami makna ayat. Beberapa yang lain mencoba untuk menyelesaikan Alquran begitu cepat sehingga mereka kurang memperhatikan kedalaman spiritual dari Alquran.

Selain itu, sangat disarankan untuk menghafal ayat Alquran sebanyak mungkin dan membacanya selama shalat. Pengulangan dengan memahami makna akan terus menumbuhkan kerinduan jiwa dan mendekatkannya untuk memahami pesan Allah kepada umat manusia.

Seseorang memahami bahwa puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus tapi tahu takwa adalah kuncinya. Takwa berarti kesadaran, rasa kagum atau takut kepada Allah yang mengilhami seseorang untuk waspada terhadap perbuatan salah. Dia akan haus akan perbuatan yang menyenangkan Allah dan menjauhi perbuatan yang dilarang-Nya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X