Monday, 28 Ramadhan 1442 / 10 May 2021

Monday, 28 Ramadhan 1442 / 10 May 2021

Badan Kesehatan AS Setop Sementara vaksin Johnson & Johnson

Rabu 14 Apr 2021 10:02 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Teguh Firmansyah

Vaksin Johnson & Johnson

Vaksin Johnson & Johnson

Foto: Johnson & Johnson via AP
Penghentian sementara vaksin terkait dengan kasus pembekuan darah.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Badan Kesehatan Federal Amerika Serikat (AS) menyerukan agar penggunaan vaksin untuk mencegah infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) dari Johnson & Johnson dihentikan sementara pada Selasa (13/4). Langkah tersebut diserukan setelah adanya laporan tentang kasus pembekuan darah yang terjadi kepada enam penerima vaksin Covid-19 Johnson & Johnson.

Dalam pernyataan bersama, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) mengatakan saat ini sedang meninjau data yang melibatkan enam kasus pembekuan darah yang langka pada individu setelah menerima vaksinasi produk itu.

Menurut laporan, dalam kasus tersebut, jenis pembekuan darah yang terjadi diketahui sebagai trombosis sinus vena serebral yang terlihat dalam kombinasi dengan tingkat trombosit darah yang rendah. Enam kasus yang terjadi melibatkan peserta vaksinasi perempuan berusia antara 18 dan 48 tahun.

Seperti dilansir Bernama, gejala pembekuan darah muncul dalam waktu enam hingga 13 hari setelah vaksinasi COVID-19 dengan menggunakan produk dari Johnson & Johnson. Meski demikian, pernyataan bersama badan kesehatan federal AS menyebut bahwa kasus efek samping yang parah tersebut sangat jarang terjadi.

Perawatan media untuk kasus pembekuan darah yang khusus ini disebut cukup berbeda. Biasanya, obat antikoagulan yang disebut heparin digunakan untuk mengobati pembekuan darah.

Namun, dalam kasus trombosit sinus vena serebral, pemberian heparin mungkin berbahaya. Karena itu, pengobatan alternatif mungkin perlu diberikan.  Secara keseluruhan, hingga awal pekan ini, lebih dari 6,8 juta dosis vaksin Covid-19 dari Johnson & Johnson telah diberikan di AS.




BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA