Refleksi Ramadhan: Beda dan Persamaan Taibin dan Tawwab

Red: Nashih Nashrullah

 Rabu 14 Apr 2021 04:32 WIB

Terdapat perbedaan dan persamaan antara taibin dan tawwab. Ilustrasi ampunan Foto: ANTARA/SYIFA YULINNAS Terdapat perbedaan dan persamaan antara taibin dan tawwab. Ilustrasi ampunan

Terdapat perbedaan dan persamaan antara taibin dan tawwab

Oleh : Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar

REPUBLIKA.CO.ID,  Ada dua istilah yang sering diartikan sama ke dalam bahasa Indonesia, tetapi sesungguhnya maknanya berbeda, yaitu al-taibin dan al-tawwabin.

Keduanya sering diartikan orang-orang yang bertaubat. Kedua kata ini berasal dari akar kata taba-yatubu yang artinya kembali, yaitu kembali ke jalan yang benar setelah menempuh jalan meyimpang.

Beberapa kata yang sinonim secara harfiah tetapi kemudian berbeda dalam peristilahan, seperti raja'a berarti kembali ke jalan atau ke tempat semula, seperti kata Tuhan, innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Kata radda yang kemudian membentuk kata murtad berarti ditolak, yakni setelah seseorang bermohon untuk kembali tetapi ditolak perbuatannya sendiri. Di sinilah letak perbedaan antara taubat dengan istighfar.

Taubat menuntut tindak lanjut lebih jauh, sedangkan istighfar lebih merupakan ungkapan spontanitas seorang hamba yang baru saja menyadari kekhilafannya dengan mengucapkan kalimat istighfar, misalnya astaghfirullahal 'adhim.

Taubat lebih dari sekadar itu, menghendaki tindak lanjut yang boleh jadi amat berat dilaksanakan pelakunya. Secara terminologi, taubat biasa diartikan kembali dari sikap dan perbuatan tercela menuju kepada yang terpuji. 

Baca juga : Qadha Puasa Bagi yang Murtad Lalu Kembali Masuk Islam

Al-taibin adalah bentuk ism fa'il dari kata taba, berarti orang-orang yang kembali menyadari kesalahannya dengan melakukan persyaratan taubat. Dalam kitab Hadâiq al-Haqâiq karya Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin Al-Razi (W 660 H) disebutkan, persyaratan taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, melainkan juga harus meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, mengganti perbuatan itu dengan perbuatan baik, menyesali diri dengan perbuatan dosa dan maksiat, berikrar tidak akan mengulangi lagi. 

Selain persyaratan tersebut, Imam Al Gazali dalam kitab Ihya' 'Ulum al-Din menambahkan dengan mengembalikan semua barang orang yang pernah diambil, meminta maaf kepada orang yang pernah difitnah atau dibicarakan aibnya, menghancurkan daging dan lemak yang tumbuh dalam dirinya yang berasal dari sumber yang haram dengan cara al-riyadhah, yaitu menjalani latihan jasmani dan rohani dalam menempuh berbagai tahapan menuju kedekatan diri kepada Allah, dan mujahadah, yakni perjuangan melawan dorongan nafsu ama rahnya, tidak makan, minum, dan memakai pakaian kecuali yang bersumber dari yang halal, dan menyucikan hati dari sifat khianat, tipu daya, sombong, iri hati, dengki, panjang angan-angan, lupa terhadap kematian, dan yang semacamnya. Dengan demikian, taubat lebih berat daripada istighfar.

Sedangkan, al-tawwabin, prinsipnya sama saja dengan al-taibin, yaitu melakukan pertaubatan dari dosa dan maksiat pada saat terjadinya dosa, bahkan kadang mengumpulkan dosa lalu sekaligus dila kukan pertaubatan secara menyeluruh. Al-tawwabin frekuensinya lebih sering, bahkan tanpa harus menunggu adanya perbuatan dosa atau maksiat tetap saja selalu bertaubat dan istighfar.     

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X