Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Terduga Teroris Kasus Bom Bunuh Diri di Makassar, Ditangkap

Rabu 14 Apr 2021 00:18 WIB

Rep: Ali Mansur / Red: Agus Yulianto

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono.

Foto: Antara
Enam terduga teroris itu merupakan kelompok Vila Mutiara itu ditangkap di Makassar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali menangkap enam orang terduga teroris yang dianggap terlibat bom bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) beberapa waktu lalu. Enam terduga teroris yang merupakan kelompok Vila Mutiara itu ditangkap di Makassar pada Selasa (13/4). 

"Khusus menyangkut kelompok Vila Mutiara yang ada di Makassar pada hari ini tanggal 13 April 202 Densus 88 mengamankam lagi enam terduga teroris. Ini merupakan kelompok Vila Mutiara di Sulawesi," ungkap Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa (13/4).

Keenam terduga teroris tersebut berinisial J, D, MS, S alias AL, W dan S. Terduga teroris inisial D ditangkap di Kabupaten Goa, sementara yang lainnya  ditangkap di Makassar. Dari penangkapan tersebut, kata Rusdi, Tim Densus 88 Antiteror Polri juga mengamankan barang bukti berupa satu senapan angin, tujuh buah handphone dan satu unit sepeda motor.

"Senapan angin yang diamankan digunakan oleh mereka untuk latihan mereka bagaimana menggunakan senjata," jelas Rusdi.

Namun saat ini, kata Rusdi, pihak Densus 88 Antiteror melakukan pengejaran terhadap pihak-pihak yang disinyalir memiliki keterlibatan pada aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh pasangan suami istri berinisila L dan YSF itu. Hanya saja, Rusdi tidak merinci bagaimana keterlibatan enam terduga teroris tersebut terkait aksi bom bunuh diri oleh L dan YSF tersebut.

Dikatakan Rusdi, kelompok Vila Mutiara itu memiliki grup di whatsApp dengan nama Batalyon Iman. Menurutnya, grup di WhatsApp itu digunakan untuk berkomunikasi dan mempraktekkan cara-cara melakukan teror. Kemudian di grup bernama Batalyon Iman itu, mereka membicarakan tentang rencana-rencana yang biasa disebut 'amaliyah' selanjutnya. "WhatsApp grup itu membicarakan, mempraktekkan bagaimana membuat atau merakit bahan peledak," ungkap Rusdi.

Setelah peristiwa bom bunuh diri, Tim Densus 88 Antiteror Polri Polri telah melakukan sejumlah penangkapan 8 terduga teroris di Makassar. Salah satunya berinisial W merupakan otak dari kejadian teror ini. Dia berperan sebagai perakit atau pembuat bom yang dibawa dah diledakan oleh pelaku L dan YSF di depan Gereja Katedral Makassar, beberapa waktu lalu. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA