Benarkah Tidur Siang Saat Puasa Ramadhan Itu Ibadah?

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

 Selasa 13 Apr 2021 19:05 WIB

Sejumlah jamaah tidur Foto: Antara/Muhammad Iqbal Sejumlah jamaah tidur

Rasulullah hanya sejenak memejamkan mata dan sekitar lima sampai sepuluh menit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketika berpuasa, badan terasa lemas tidak seperti biasanya. Terkait kondisi ini, banyak di antara umat Islam yang tidur saat berpuasa. Bahkan, beberapa ada yang percaya bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah.

Pendiri Rumah Fiqih Indonesia, Ustadz Ahmad Sarwat mengatakan dalam bukunya berjudul Ramadhan Antara Syariat dan Tradisi, salah satu alasan mengapa orang tidur siang di hari produktif selama Ramadhan adalah hadits palsu yang berbunyi:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَسُكُوتُهُ تَسْبِيحٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ

“Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.”

Meski begitu, ada beberapa hal yang terkandung dalam hadits tersebut sesuai dengan hadits-hadits shahih. Misal, masalah dosa yang diampuni dan pahala yang dilipatgandakan. Namun, khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.

Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu dalam kitabnya berjudul Syu’ab Al-Iman. Kemudian dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya berjudul Al-Jamiush Shaghir seraya menyebut bahwa status hadits ini dhaif atau lemah.

Namun, status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti dikritik oleh para muhaddits lain. Menurut mayoritas mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif tapi sudah sampai derajat hadits maudhu’ atau palsu. Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi. Sebab, di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi yang kedudukannya adalah pemalsu hadits.

Ini senada yang disampaikan oleh Al-Iraqi, Sulaiman bin Amr termasuk dalam daftar pendusta yang pekerjaannya adalah pemalsu hadits. Status kepalsuan hadits ini diperkuat oleh komentar Al-Imaam Ahmad bin Hanbal. Dia mengatakan Sulaiman bin Amr memang benar-benar seorang pemalsu hadits. Al Imam Al-Bukhari juga mengatakan Sulaiman adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.

Maka dari sini dapat disimpulkan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah. Oleh karena itu, tindakan ini tidak ada dasarnya dan Rasulullah saw pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.

Jika ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah hanya sejenak memejamkan mata dan sekitar lima sampai sepuluh menit. Tidak berjam-jam bahkan sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X