Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

AS Cabut Label China Sebagai Manipulator Mata Uang

Selasa 13 Apr 2021 09:51 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya

Yuan versus dolar AS

Yuan versus dolar AS

Di masa pemerintahan Trump, Kemenkeu AS melabeli China sebagai manipulator mata uang.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Janet Yellen, tidak akan menyebut China sebagai manipulator mata uang dalam Laporan Keuangan Valuta Asing Tengah Tahunan pertamanya. Langkah itu dilakukan untuk menghindari konflik baru dengan Beijing.

Selama era kepemimpinan Donald Trump, Kementerian Keuangan AS melabeli China sebagai manipulator pada pertengahan 2019 lalu. Namun, pada Januari 2020, label tersebut dicabut untuk memenangkan konsesi dalam kesepakatan perdagangan.

Seorang juru bicara Departemen Keuangan menolak berkomentar. Mata uang Yuan terhadap dolar AS merespons positif berita tersebut. Yuan menguat sekitar 0,2 persen menyentuh level tertinggi baru untuk hari ini di sekitar 6,5462 yuan per dolar AS. 

Baca Juga

Tim Yellen juga telah membahas kemungkinan membalikkan langkah pemerintahan Trump pada 2019 tersebut ke ambang batas yang lebih rendah. Hal itu untuk mengetahui apakah suatu ekonomi memanipulasi mata uangnya untuk keuntungan kompetitif.

Pemerintahan Joe Biden ingin menindaklanjuti pernyataan China yang menyebut praktik perdagangan dengan AS tidak adil. Biden juga ingin melihat lebih jauh permasalahan lainnya yang terjadi pada era Trump, seperti pelanggaran hak asasi manusia, serta meninjau kembali tarif miliaran dolar yang dikenakan pada barang-barang China.

Baca juga: OJK: Kredit Segmen Menengah Belum Tersentuh Stimulus

Label sebagai manipulator mata uang yang disematkan AS pada China saat itu sontak mengguncang pasar keuangan. Hukuman, termasuk pengecualian dari kontrak Pemerintah AS, dapat diterapkan setelah satu tahun kecuali labelnya dihapus.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA