Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Rusia Masih Bungkam Soal Konflik dengan Ukraina

Selasa 13 Apr 2021 04:31 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Bendera Rusia

Bendera Rusia

Ukrania telah mengajukan permintaan untuk melakukan pembicaraan dengan Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy belum melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas konflik yang meningkat di timur Ukraina. Juru bicara Presiden Zelenskiy, Iuliia Mendel mengatakan, Ukrania telah mengajukan permintaan untuk melakukan pembicaraan dengan Rusia tetapi belum ditanggapi.

"Kantor presiden, tentu saja, meminta untuk berbicara dengan Vladimir Putin.  Kami belum mendapat jawaban dan kami sangat berharap ini bukan penolakan untuk berdialog,” kata Mendel.

Mendel mengatakan Rusia telah mengumpulkan lebih dari 40.000 tentara di perbatasan timur Ukraina dan lebih dari 40.000 tentara di Krimea. Angka tersebut lebih tinggi dari yang sebelumnya diungkapkan oleh kepala angkatan bersenjata Ukraina kepada parlemen pada Maret.

Baca Juga

Mendel menambahkan, Zelenskiy akan melakukan kunjungan ke Paris untuk membicarakan peningkatan pasukan Rusia dan konflik yang meningkat di Donbass. Zelenskiy dan Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan bertemu pada akhir pekan ini.

Putin pada Jumat (9/4) menuduh Ukraina melakukan "tindakan provokatif berbahaya" di wilayah Donbass. Kremlin mengatakan Rusia memiliki kebebasan untuk memindahkan pasukan di sekitar wilayahnya sendiri untuk tujuan pertahanan.

Kiev dan Moskow saling menyalahkan atas situasi yang memburuk di wilayah Donbass timur. Wilayah tersebut merupakam tempat pasukan Ukraina bertempur melawan pasukan yang didukung Rusia dalam konflik yang menurut Kiev telah menewaskan 14.000 orang sejak 2014.

Kebuntuan itu telah memicu keprihatinan dari para pendukung Ukraina di Barat.  Washington dan aliansi NATO menuduh Rusia membangun "provokatif". Zelenskiy telah berbicara tentang perlunya NATO untuk mengakui Ukraina. Namun langkah ini ditentang oleh Rusia, dengan alasan masalah keamanan.

"Di satu sisi, Anda tidak bisa panik, di sisi lain, Anda perlu memahami bahwa Rusia telah menunjukkan lebih dari sekali bahwa ia dapat menginvasi negara yang berbeda," kata Mendel.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA