Sejarah Sholat Tarawih Ramadhan

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

 Senin 12 Apr 2021 08:06 WIB

Sejarah Sholat Tarawih. Foto: Shalat Tarawih (ilustrasi). Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang Sejarah Sholat Tarawih. Foto: Shalat Tarawih (ilustrasi).

Dulunya bukan bernama sholat tarawih Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ustadz Ahmad Zarkasih Lc dalam buku Sejarah Tarawih menjelaskan, istilah Tarawih tidak dikenal oleh Nabi Muhammad SAW dan juga oleh sahabat Abu Bakar RA. "Karena memang dulu Nabi Muhammad SAW menyebutnya bukan dengan istilah Tarawih, tapi dengan nama qiyam Ramadhan, yakni penghidupan atas malam Ramadhan. Maksudnya ibadah guna menghidup malam-malam Ramadhan," kata dia dalam bukunya tersebut.

Zarkasih menuturkan bahwa kata Tarawih itu adalah bentuk plural (jamak) dari single tarwiih. Tarwiih adalah bentuk masdar kata sifat atau hasil kerja dari kata kerja rawwaha yurawwihu.  

Munculnya nama Tarawih, kata dia, sebagai istilah yang dipakai oleh banyak atau hampir seluruh ulama untuk menyebut sholat sunnah malam Ramadhan ini bisa jadi ada beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah apa yang terjadi pada masa Umar bin al-Khattab menjabat.

Dari riwayat Imam al-Marwadzi dalam kitabnya Kitab Qiyam Ramadhan, dari al-Hasan, Umar RA memerintahkan Ubai untuk menjadi imam pada qiyam Ramadhan dan mereka tidur pada seperempat pertama malam, lalu mengerjakan sholat pada 2/4 malam setelahnya, dan selesai pada 1/4 malam terakhir. Mereka pun pulang dan sahur.   

Mereka membaca 5-6 ayat pada setiap rakaat, sholat dengan 18 rakaat yang salam setiap dua rakaat, dan memberikan mereka istirahat sekadar berwudhu dan menunaikan hajat mereka.

Baca juga : Mulai Puasa Sekarang, Ini Dalil Pesantren Mahfilud Dluror

"Menjadi mungkin istilah Tarawih muncul di masa ini karena dalam riwayat di atas, Ubai bin Ka’ab diperintah oleh Umar RA untuk menjadi imam qiyam Ramadhan dengan bacaan 5-6 ayat di setiap rakaat, dan setiap 2 rakaat, istirahat. Dengan redaksi riwayat seperti ini. 'Memberikan mereka istirahat sekadar berwudhu dan menunaikan hajat mereka.'"

Bisa jadi, menurut Zarkasih, itulah mengapa sholat ini disebut dengan istilah Tarawih karena pelaksaannya ketika zaman ini, imam memberikan banyak tarwiih alias istirahat untuk makmum pada setiap selesai dua rakaat. Itu berarti, jika sholat dikerjakan dengan 18 rakaat, mereka mendapatkan 9 kali tarwih.

Kalau sholat itu dikerjakan dengan 20 rakaat, tarwih yang ada menjadi 10 kali. Apalagi jika ditambah dengan tiga rakaat witir yang formatnya dua rakaat plus satu. Itu berarti tarwih manjadi 12 kali.

"Karena itulah sholat ini dinamakan sholat Tarawih karan di dalamnya imam memberikan banyak tarwih alias istirahat di setiap selesai salam," katanya.





BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X