Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

18 dari 26 Warga Lereng Gunung Ile Api Ditemukan Meninggal

Sabtu 10 Apr 2021 22:00 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Petugas menggunakan ekskavator saat pencarian korban hilang dalam tanah longsor di Desa Waematan, Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (10/4/2021). Tim SAR gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, PMI, dan relawan telah berhasil mengevakuasi 18 korban meninggal dan saat ini masih melakukan pencarian terhadap delapan korban hilang tertimbun material batu dan tanah longsor yang terjadi pada Minggu (4/4) dini hari.

Petugas menggunakan ekskavator saat pencarian korban hilang dalam tanah longsor di Desa Waematan, Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (10/4/2021). Tim SAR gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, PMI, dan relawan telah berhasil mengevakuasi 18 korban meninggal dan saat ini masih melakukan pencarian terhadap delapan korban hilang tertimbun material batu dan tanah longsor yang terjadi pada Minggu (4/4) dini hari.

Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra
Delapan warga hilang masih dalam pencarian petugas.

REPUBLIKA.CO.ID, FLORES TIMUR -- Sebanyak 18 dari total 26 warga yang hilang saat terjadi tanah longsor di lereng gunung api IleAii, Desa Waimatan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan dalam kondisi meninggal. Delapan masih dalam pencarian.

"Saat ini tinggal delapan lagi dalam pencarian," kata Camat Ile Ape TimurNiko Watun di Lembata, Sabtu.

Laporan tersebut dihimpun berdasarkan proses pencarian oleh warga bersama Tim Gabungan Basarnas dan Satuan Polisi Satwa Mabes Polri hampir sepekan terakhir sejak kejadian pada Ahad (4/4). Niko mengatakan bencana tanah longsor di wilayah itu melanda tiga desa di lereng Gunung Ile Ape, yakni Waimatan, Lamagute, dan Lamawolo.

Baca Juga

Jumlah korban meninggal dunia terbanyak berada di Desa Waimatan. Sementara tiga lainnya yang juga meninggal dunia berada di Desa Lamawolo.Persitiwa itu terjadi, menurut Niko, akibat masyarakat di Desa Waimatan cenderung mengacuhkan peringatan dini yang di sampaikan kecamatan melalui pesan WhatsAppgroup warga, beberapa jam sebelum peristiwa itu terjadi.

"Karena warga Waimatan merasa desanya jauh dari jalur sungai yang ada di Dusun Kelar, sehingga mereka pikir tanah tidak turun ke kampung mereka. Saat itu malam Paskah juga, sehingga mereka tidur lelap," katanya.

Niko mengatakan musibah yang terjadi sekitar pukul 02.00 WITA itu juga mengakibatkan 900 lebih penduduk di tiga wilayah itu kehilangan tempat tinggal. Sebanyak 29 rumah di Desa Waimatan dan 109 rumah di Desa Lamawolo. "Ada yang terkubur dan rusak berat," katanya.

Desa Waimatan berada di lereng Gunung ApiIle Api. Posisinya berada tepat di lintasan Jalan Trans Ile Api yang mengelilingi sekitar bagian tengah gunung.Niko menceritakan hujan deras mengguyur puncak gunung sejak pukul 00.00 WIB. Tiba-tiba tanah bercampur lumpur dan lahar dingin meluncur dari puncak gunung hingga memutus badan Jalan Trans Ile Ape.

Sebanyak 29 rumah penduduk di Desa Waimetan yang berada tepat di sisi badan jalan pun terkubur dan sebagian terdorong hingga jatuh ke lereng gunung."Saat ini korban selamat kamiungsikan di kantor kecamatan. Separuhnya di rumah keluarga. Mereka mengungsi mandiri," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA