Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Kebun Anggur Ukraina di Tengah Panasnya Bekasi

Sabtu 10 Apr 2021 09:51 WIB

Rep: Uji Sukma Medianti/ Red: Bilal Ramadhan

Perkebunan

Perkebunan

Foto: Uji Sukma Medianti
Bibit anggur Ukraina bisa tumbuh dengan mudah dan bisa dipanen dalam tiga bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, Bekasi kerap jadi olok-olok warganet lantaran suhu udaranya yang dikenal panas. Namun, siapa menyangka kalau di wilayah ini buah anggur justru tumbuh subur. Andrew Ramanda (37 tahun) mencoba peruntungan berkebun buah anggur di tengah panasnya suhu Kota Bekasi.

Rabu (6/4) siang, kebun anggur seluas 10 meter x 8 meter baru saja dipanen. Hanya ada beberapa buah anggur hijau yang tersisa dan membentuk beberapa koloni. Kata Andrew, jika sudah matang berat satu koloninya bisa mencapai 3 kilogram. Warnanya pun akan berubah menjadi hitam keunguan.

Anggur ini jenis Gift of Zaphorozye Viking (GOZV) yang bibitnya berasal dari Ukraina. Dia mengatakan, seluruh bibit anggur yang kini ia tekuni berasal dari negara Eropa Timur, terutama Ukraina. Bibit GOZV paling diminati oleh orang Indonesia. Sebab, buahnya bisa tumbuh dengan mudah.

"Saya punya 80 jenis nanti kita seleksi jadi 20 jenis. Karena kan iklim di sana sana di sini beda. Jadi nanti akan kota sesuaikan mana yang bisa berbuah paling banyak," tutur Andrew.

Selain dapat tumbuh dengan mudah, mengurus tanaman ini juga mudah. Hanya perlu disiram dua kali sehari, katanya. Hasilnya dapat dipanen setelah tiga bulan apabila indukannya sudah berbuah. Tak perlu menunggu lama.

"Kalau nunggu panennya sekitar tiga bulan. Tetapi kalau proses dia dari bibit hingga menjadi buah butuh waktu sekitar delapan bulan," ujar dia.

Kesukaan Andrew untuk berkebun berawal dari hobinya menanam tumbuhan hidroponik. Tangannya yang 'wangi' dan telaten membuatnya ingin terus mencoba berbagai jenis tanaman dan buah untuk ditanami.

Sebelum anggur, lanjut Andrew, ia juga sempat menanam buah tin yang bibitnya diimpor dari Yordania. Namun, hal itu tak berlangsung lama lantaran harganya sangat jatuh. "Belum //booming//, sudah turun harganya. Akhirnya saya coba anggur karena harganya stabil," kata dia.

Untuk membuat satu kebun anggur ini, Andrew harus merogoh kocek sebanyak Rp 15 juta. Kini ia sudah memiliki dua kebun. Namun jangan salah, ia tak bercocok tanam dengan tujuan menjual buahnya. Akan tetapi, ia menjual bibit buah anggur. 

Harga satu bibit anggur dari Ukraina, ia beli seharga Rp 125 ribu untuk jenis GOZV. Lantas, ia menjualnya kembali dengan kisaran harga yang sama. Perubahan perilaku masyarakat yang terjadi selama pandemi Covid-19, juga memberi berkah tersendiri bagi Andrew.

Sebab, melalui perkebunan 'Tukang Anggoer' yang  ditekuninya sekarang banyak permintaan konsumen yang ingin bercocok tanam di rumah. "Kalau anggur memang belum sepopuler tanaman hias aglonema, tetapi peminatnya sudah cukup ramai," kata dia.

Dalam menjual bibit, kata dia, tentu ia memastikan terlebih dulu kalau bibit induknya telah berbuah. Jika di negara asalnya, GOZV hanya bisa dipanen maksimal dua kali dalam setahun. Di Bekasi, buah ini bisa dipanen sebanyak tiga kali.

"Jadi memang bisnis tanaman ini saya fokus ke penjualan bibit. Karena kalau buahnya paling dijual lingkungan rumah saja," terang dia.

Isi Waktu

Bercocok tanam menjadi tren belakangan ini. Terlebih saat pandemi Covid-19 yang mengharuskan banyak orang untuk berkegiatan dari rumah. Meski sudah satu tahun berlalu, namun kebiasaan dan hobi bercocok tanam tak tenggelam begitu saja.

Adam Zakiy Hizbullah (27) juga ikut menekuni tanaman hidroponik di rumah. Sebelum pandemi, ia sudah mencoba untuk menanam tanaman selada dan juga kangkung. Hasil panennya memang tak terlalu banyak, namun bisa membuat kepuasan tersendiri.

"Senang dan hobi saja, kalau menanam tanaman apalagi yang bisa dimakan. Ada kepuasan tersendiri ketika kita makan tanaman itu," kata Adam.

Tanaman hidroponiknya tetap ia rawat, meski tak bisa seintens saat awal pandemi. Jika tak ada aral melintang, Adam berencana ingin memulai bercocok tanam melalui medium tanah. Selain memberi kepuasan batin, dia mengaku penasaran ingin mencoba jenis tanaman lain untuk ditumbuhi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA