Jumat 09 Apr 2021 08:46 WIB

Penembakan Pecah di Kawasan Industri Texas AS, 1 Orang Tewas

AS dilanda serentetan penembakan massal selama tiga pekan terakhir

Red: Nur Aini
Polisi AS di lokasi penembakan (ilustrasi).
Foto: Matt Stone/The Boston Herald via AP
Polisi AS di lokasi penembakan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, TEXAS -- Sedikitnya satu orang tewas dan sejumlah orang lainnya terluka dalam penembakan di kawasan industri di Texas tengah pada Kamis (8/4). Kejadian itu merupakan yang terbaru dalam serentetan kekerasan senjata massal mematikan di Amerika Serikat selama tiga pekan terakhir.

Juru bicara Kepolisian Bryan, Texas, Letnan Jason James melalui wawancara dengan CNN via telepon mengatakan bahwa penembakan berlangsung di sebuah perusahaan, "di mana terdapat banyak pekerja di dalamnya." Kepala Kepolisian setempat Eric Buske lantas memberitahu awak media bahwa pria bersenjata itu rupanya salah satu pekerja dari perusahaan tempat lokasi penembakan, Kent Moore Cabinets.

Baca Juga

Buske yakin tersangka telah ditahan di sel. Penembakan itu menewaskan satu orang di lokasi kejadian dan melukai empat lainnya akibat tembakan, ungkap Buske. Menurutnya, orang kelima dibawa ke rumah sakit lantaran menderita serangan asma.

Kekerasan itu menyusul serentetan belasan penembakan massal mematikan di seluruh Amerika Serikat sejak pertengahan Maret, termasuk serangan yang menewaskan delapan orang di spa daerah Atlanta, 10 orang di swalayan Boulder, Colorado dan empat orang, termasuk bocah laki-laki berusia 9 tahun di Orange, Kalifornia.

Pada Rabu (7/4) mantan pemain sepak bola profesional menembak dan menewaskan seorang dokter terkemuka di South Carolina, istrinya, dua cucunya, dan satu pria lain sebelum mengakhiri hidupnya sendiri di rumahnya, yang berada tidak jauh dari lokasi penembakan. Penembakan terbaru di Texas pada Kamis terjadi beberapa jam setelah Presiden Joe Biden dan Jaksa Agung Merrick Garland mengumumkan aturan terbatas untuk menangani lonjakan kekerasan senjata di AS dalam beberapa tahun belakangan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement