Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Liverpool Kecam Perlakuan Rasialis kepada Pemainnya

Kamis 08 Apr 2021 12:49 WIB

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Israr Itah

Trent Alexander-Arnold jadi sasaran rasialisme selepas kekalahan Liverpool dari Real Madrid.

Trent Alexander-Arnold jadi sasaran rasialisme selepas kekalahan Liverpool dari Real Madrid.

Foto: Clive Brunskill / Pool via AP
Trent Alexander-Arnold dan Naby Keita

REPUBLIKA.CO.ID, MERSEYSIDE -- Manajemen Liverpool merespons secara tegas perlakuan rasialis yang menimpa kedua pemainnya Trent Alexander-Arnold dan Naby Keita. Keduanya jadi sasaran karena dianggap biang kekalahan Liverpool 1-3 dari Real Madrid pada leg pertama perempat final Liga Champions 2020/2021 di Stadion Alfredo Di Stefano, Kamis (8/4) dini hari WIB.

Liverpool berkunjung ke markas Madrid pada tengah pekan kemarin. Namun tersisa kemelut selepas kekalahan tersebut. Selain peluang lolos ke semifinal makin sulit, Liverpool dikecewakan hujatan rasialis kepada pemainnya.

Melalui berbagai platform, pihak Liverpool menegaskan mengutuk keras hujatan rasialis kepada kedua pemain tersebut.

Baca Juga

"Liverpool mengutuk semua bentuk diskriminasi. Situasi saat ini tidak dapat dibiarkan berlanjut dan merupakan kewajiban kita semua untuk memastikan bahwa tidak demikian," demikian pernyataan klub dilansir Marca, Kamis (8/4).

Tindakan rasialis terjadi melalui sosial media klub dan juga pemain. Keduanya dikirimi emoji monyet di antara pelecehan rasialis lainnya dalam kasus terbaru pesepak bola profesional yang mengalami pelecehan secara daring.

"Kami akan menawarkan pemain kami semua dukungan yang mereka butuhkan," kata dia.

Kasus rasialis dalam industri sepak bola memang bukan barang baru. Namun, setelah absenya penonton ke stadion tudingan dan hujatan rasialis saat ini justru mengarah secara langsung ke pribadi pesepak bola via sosmed.

Isu soal sosial media tengah ramai diperbincangkan. Tak hanya perlakuan rasialis, beberapa kasus seperti tekanan dan teror berlebih membuat korban merasa depresi.

Kasus lain dalam industri sepak bola Eropa adalah keputusan mundurnya pelatih Fiorentina Cesar Prandelli. Dirinya secara terbuka menjelaskan pilihannya mundur dari dunia kepelatihan secara penuh di dasari atas kesehatan mental.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA