Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

'Tradisi Maaf-memaafkan tidak Miliki Batas Waktu'

Kamis 08 Apr 2021 09:56 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Ani Nursalikah

'Tradisi Maaf-memaafkan tidak Miliki Batas Waktu'

Foto:
Bermaaf-maafkan adalah suatu bentuk kebaikan.

Tren meminta maaf melalui sosial media atau pesan elektronik, kata dia, juga tidak perlu dijadikan persoalan serius. Menurutnya meminta maaf kepada publik atau umum tanpa ditentukan individunya dibolehkan dan sah-sah saja dilakukan. 

“Bukan masalah karena banyak diantara kita yang berinteraksi dengan khalayak di media sosial, dalam bentuk itu dimana interaksi dilakukan secara general tanpa ditentukan personalnya,” jelasnya.

Adapun pelabelan bid’ah pada ucapan-ucapan permohonan maaf melalui media sosial, kata Ustadz Zarkasih, tidak memiliki sandaran hukum syariatnya. “Penyematan kata bid’ah pada sesuatu yang dijadikan ibadah ritual, sama halnya membuat sholat ashar menjadi lima rakaat dengan sengaja,” kata dia. 

Meminta maaf itu sendiri kebaikan yang dalam syariat, dia dianjurkan. Dan syariat juga tidak pernah membatasi kapan itu dilakukan.

 

Penjelasan mengenai anjuran maaf-memaafkan juga dijelaskan Rasulullah dalam sebuah hadits. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang pernah mempunyai kedzaliman terhadap seseorang, baik terhadap kehormatannya atau apa pun, maka minta halallah darinya hari ini! Sebelum tidak ada emas dan perak, yang ada adalah jika dia mempunyai amal shalih, maka akan diambil darinya sesuai dengan kedzalimannya, jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka akan diambilkan dosa lawannya dan ditanggungkan kepadanya”. (HR. Bukhari No. 2449).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA