Pandangan Ulama Soal Keharusan Minta Maaf Sebelum Ramadhan

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Ani Nursalikah

 Kamis 08 Apr 2021 06:13 WIB

Pandangan Ulama Soal Keharusan Minta Maaf Sebelum Ramadhan. Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Pandangan Ulama Soal Keharusan Minta Maaf Sebelum Ramadhan. Ilustrasi Ramadhan

Banyak masyarakat yang terpengaruh informasi yang tidak akurat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) Jeje Zaenudin menjelaskan, jika merujuk pada Alquran dan hadits, tidak ada keterangan shahih yang menerangkan keharusan untuk saling meminta maaf saat memasuki bulan suci Ramadhan.

“Sejauh yang kita baca dari Alquran dan hadits, tidak keterangan yang sahih tentang keharusan saling meminta maaf karena mau memasuki bulan puasa,” kata Dosen STID Muhammad Natsir Dewan Dakwah Islamiyah itu.

Adapun tren maaf-memaafkan melalui pesan singkat hingga unggahan di sosial media saat menjelang Ramadhan, kata Ustadz Jeje, disebabkan informasi yang kurang akurat tentang hadits nabi yang berkenaan dengan hal tersebut. 

Baca Juga

Diantara penyebabnya adalah tersiar informasi yang tidak akurat tentang  hadits Nabi. Konon bahwa ketika Nabi Muhammad naik mimbar tiba-tiba beliau berkata amin tiga kali. 

Ketika ditanya para sahabat, Nabi menjawab bahwa beliau mengaminkan Malaikat Jibril. Doa Malaikat Jibril itu adalah, "Ya Allah tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut, tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada), tak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri, dan tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya." 

“Namun faktanya, hadits di atas tidak memiliki perawi yang jelas,” katanya.

Baca juga : Setan Dibelenggu Saat Ramadhan, Mengapa Maksiat Masih Marak?

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X