Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Mental Anak Jadi Alasan Ortu Izinkan Sekolah Tatap Muka

Rabu 07 Apr 2021 15:21 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Indira Rezkisari

Siswa SMKN 15 Jakarta Selatan sedang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) hari pertama di sekolah, Rabu (7/4).

Siswa SMKN 15 Jakarta Selatan sedang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) hari pertama di sekolah, Rabu (7/4).

Foto: Republika/Febryan A
Sekolah tatap muka diyakini hilangkan kejenuhan anak belajar daring.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah wali murid SMKN 15 Jakarta Selatan (Jaksel) mengaku senang anaknya bisa kembali belajar tatap muka di sekolah mulai hari ini, Rabu (7/4). Belajar langsung disekolah diyakini bakal menghilangkan kejenuhan siswa yang selama ini hanya belajar secara daring di rumah masing-masing.

Dony (43 tahun), salah satu wali murid, mengizinkan putranya mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) karena anaknya sudah jenuh di rumah saja. "Saya senang sih dia bisa belajar di sekolah lagi. Selama ini sudah jenuh di rumah saja," kata Dony, saat menjemput putranya di depan SMKN 15, Kebayoran Baru, Rabu.

Baca Juga

Kendati demikian, Dony juga mencemaskan anaknya tertular Covid-19. Oleh karenanya, dia selalu mengantar dan menjemput anaknya. Ia juga mempersiapkan semua kebutuhan putranya seperti makanan karena memang diharuskan membawa makanan dari rumah.

Hal serupa disampaikan Robi (40). Ia meyakini, belajar tatap muka akan menghilangkan kejenuhan putrinya yang selama ini belajar daring di rumah. Rutinitasnya selama ini hanya bersama ponsel.

"Belajar di sekolah ini menghilangkan kejenuhan anak di rumah. Kalau sekarang dia bisa bersosialisasi dengan teman-temannya," kata Robi yang juga sedang menjemput putrinya di depan SMKN 15.

Seperti Dony, Robi juga khawatir pergi ke sekolah meningkatkan risiko anaknya terpapar Covid-19. Dia namun mengizinkan putrinya belajar tatap muka demi perkembangan mentalnya. "Yang penting kita ingatkan anak protokol kesehatan, kita siapkan makanan dari rumah dan kita antar-jemput," ujarnya.

Baca juga : Mental Anak Jadi Alasan Ortu Izinkan Sekolah Tatap Muka

Kepala Sekolah SMKN 15, Prihatin Gendra Priyadi, mengatakan, PTM hari ini diikuti 114 siswa. Mereka terdiri atas siswa kelas X dan kelas XII.  

Setiap kelas, kata dia, maksimal diisi 18 siswa. Hari ini, untuk kelas XII ruangan kelas hanya diisi 10 siswa karena sedang mengikuti ujian. Sedangkan kelas X diisi 12-18 siswa.  

"Kelas X itu agak malu-malu meski juga senang. Sebagai siswa SMK 15, mereka baru pertama kali bertemu teman sekelas. Selama ini hanya via chatting. Jadi ini kesempatan mereka untuk saling kenal," kata Prihatin kepada wartawan.  

Dia menjelaskan, secara keseluruhan, SMKN 15 memiliki 468 siswa. Dari 468 siswa itu, sebanyak 92,8 persen diizinkan orang tuanya untuk mengikuti PTM.  

"Yang belum disetujui karena memang di keluarganya ada yang sakit mengkhawatirkan. Sempat terpapar Covid-19," kata Prihatin.  

Dia menambahkan, selain mempersiapkan ruangan kelas, pihaknya juga menyiapkan dua ruang isolasi yang akan digunakan jika ada siswa yang bergejala Covid-19. Pihaknya juga telah bekerja sama dengan Puskesmas untuk melakukan pengecekan lebih lanjut.  

"Untuk hari ini tidak ada yang tidak dibolehkan masuk. Semuanya sehat dan bisa mengikuti PTM," ujarnya.

Berdasarkan pantauan Republika, semua siswa yang hadir diperiksa terlebih dahulu suhu tubuhnya. Lalu diminta untuk mencuci tangan.

Baca juga : Sekolah Diingatkan Jangan Colongan Gelar Belajar Tatap Muka 

Pada salah satu ruangan kelas, tampak hanya ada 14 siswa. Ruangan kelas itu biasanya bisa diisi 30 siswa lebih. Tampak sejumlah kursi dibiarkan kosong. Para siswa berjarak dengan siswa lainnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA