Rabu 07 Apr 2021 05:15 WIB

China Luncurkan Film Musikal Demi Lawan Tuduhan Genosida

China meluncurkan film musikal untuk melawan tuduhan terhadap muslim Uighur

Rep: Mabruroh/ Red: Esthi Maharani
Muslim Uighur di Cina
Foto: Dokrep
Muslim Uighur di Cina

IHRAM.CO.ID, BEIJING -- Terinspirasi oleh film Hollywood "La La Land", China meluncurkan film musikal untuk melawan tuduhan pelecehan dan penyiksaan terhadap muslim Uighur.

Film tersebut  telah diputar di bioskop-bioskop China, dengan menampilkan pedesaan, kelompok etnis tanpa penindasan, pengawasan massal, dan bahkan tanpa menyertakan unsur Islam dari mayoritas penduduk Uyghur.

Dilansir dari The Guardian, pada Selasa (6/4), China tengah melakukan serangan humas untuk mengubah tuduhan genosida yang diduga dilakukan pemerintah China terhadap Uighur dan minoritas Muslim lainnya.

Tuduhan perbudakan dan kerja paksa di dalam industri kapas Xinjiang telah menarik perhatian global, termasuk merek-merek besar seperti Nike yang mengatakan, bahwa mereka tidak akan lagi mengambil bahan dari wilayah tersebut.

Melalui lagu rap, pameran foto, dan musikal "The Wings of Songs" memimpin pembingkaian kembali budaya di wilayah tersebut. Disusul kemudian para selebritas juga ikut membela industri tekstil Xinjiang yang ternoda itu.

Beijing menyangkal semua tuduhan pelecehan dan genosida yang telah disebutkan oleh Amerika Serikat dan  negara barat lainnya serta kelompok hak asasi manusia.

Justru sebaliknya, Beijing telah mengubah Xinjiang sebagai surga kohesi sosial dan pembaruan ekonomi yang telah berpaling dari tahun-tahun ekstremisme kekerasan berkat intervensi negara.

Film musikal tersebut, berfokus pada tiga laki-laki dari kelompok etnis berbeda yang memimpikan waktu besar saat mereka mengumpulkan inspirasi musik lintas budaya di pegunungan yang tertutup salju dan pemandangan gurun di wilayah tersebut.

Tetapi film musikal ini menghilangkan kamera CCTV dan pemeriksaan keamanan yang menyelimuti Xinjiang. Juga tidak ada referensi tentang Islam, seperti masjid atau perempuan berjilbab meskipun lebih dari setengah populasi Xinjiang adalah Muslim.

Dalam satu adegan, menampilkan, seorang tokoh utama, seorang Uyghur yang dicukur rapi, tengah bersulang dengan bir di tangannya.

Setidaknya ada satu juta orang Uighur dan kelompok yang sebagian besar Muslim ditahan di kamp-kamp di Xinjiang.

Belakangan bahkan terbongkar intruksi paksa pihak berwenang yang memerintahkan mensterilkan perempuan-perempuan Uighur secara paksa dan melakukan kerja paksa.

Pada Maret, Inggris dan UE mengambil tindakan bersama dengan AS dan Kanada untuk menjatuhkan sanksi paralel pada pejabat senior Tiongkok, yang terlibat dalam penahanan massal Muslim Uighur di provinsi Xinjiang.

China segera membalas, memasukkan anggota parlemen, diplomat ke dalam daftar hitam.

China juga dengan cepat menutup aplikasi Clubhouse, sebuah platform audio di mana diskusi tanpa sensor berkembang secara singkat termasuk di Xinjiang, dengan orang-orang Uighur memberikan kisah hidup mereka.

"Saya pernah ke Xinjiang dan filmnya sangat realistis," kata seorang penonton bioskop yang menolak menyebutkan namanya.

"Setelah menonton The Wings of Songs di Beijing. Orang senang, bebas dan terbuka,” katanya lagi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement