Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Banyak Pohon Tumbang, Kota Kupang Nyaris Lumpuh

Senin 05 Apr 2021 12:24 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Suasana di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dilanda cuaca ekstrem.

Suasana di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dilanda cuaca ekstrem.

Foto: Istimewa
Listrik sejak Ahad pukul 14.30 WIB-sekarang masih padam, demikian juga internet.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, sampai Senin (5/4) pukul 11.45 WITA masih lumpuh, karena banyaknya pepohonan di sejumlah ruas jalan tumbang setelah cuaca ekstrem melanda wilayah tersebut sejak Ahad (4/4).

Kepala Biro Perum LKBN Antara Biro Kupang, Bernardus Tokan melaporkan, ruas jalan yang banyak tertutup pohon tumbang, antara lain, Jalan Piet A Tallo, Jalan Veteran, Jalan Veteran Kelapa Lima, dan Jalan L Karim. Warga sampai sekarang masih berupaya memotong sejumlah pohon yang melintang di ruas jalan tersebut dengan menggunakan peralatan alakadarnya.

Saluran listrik sejak Ahad pukul 14.30 WIB sampai sekarang masih padam, demikian juga internet. Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) hampir semuanya tutup dan warga memilih untuk bertahan di rumah karena angin masih tetap kencang. Dia menyebutkan, Kota Kupang saat ini praktis nyaris lumpah karena tidak ada aktivitas warga di luar rumah.

Diperkirakan banyak rumah di Kota Kupang yang rusak akibat angin kencang tersebut, namun sampai sekarang belum diketahui informasi secara resmi dari pihak terkait mengenai kerusakan akibat bencana alam tersebut.

Sementara sekitar 62 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang yang melanda Kabupaten Flores Timur dampak dari cuaca ekstrem sejak Ahad. Informasi dari Wakil Bupati Flores Timur Agus Payong Boli, korban yang meninggal tersebut sebanyak 56 merupakan warga Desa Nelelalamadike, Kecamatan Ileboleng dan enam orang lainnya adalah warga Kecamatan Adonara.

Sementara empat orang lainnya yaitu di Desa Oyangbaran, Kecamatan Wotanulumado sebanyak tiga orang dan satu orang di Waiwerang masih dalam pencarian.Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) mendata 44 orang meninggal dunia dan 24 lainnya masih belum ditemukan dalam bencana banjir bandang tersebut. Data sementara hingga Senin (5/4) pukul 05.00 WIB, tercatat 256 jiwa warga mengungsi di Balai Desa Nelemawangi dan sejumlah warga lainnya mengungsi di Balai Desa Nelelamadike.

Sebanyak sembilan desa yang tersebar di empat kecamatan terdampak peristiwa itu. Kedelapan desa tersebut, yaitu Desa Nelemadike dan Nelemawangi (Kecamatan Ile Boleng), Desa Waiburak dan Kelurahan Waiwerang (Adonara Timur), Desa Oyang Barang dan Pandai (Wotan Ulu Mado), dan Desa Duwanur, Waiwadan dan Daniboa (Adonara Barat). Sedangkan kerugian materil masih tercatat rumah hanyut 17 unit, rumah terendam lumpur 60 unit, dan lima jembatan putus.

BPBD setempat masih terus melakukan pendataan dan verifikasi dampak korban maupun kerusakan infrastruktur.BPBD Kabupaten Flores Timur menghadapi beberapa kendala dalam mendukung upaya penanganan darurat karena akses utama melalui penyeberangan laut, sedangkan kondisi hujan, angin dan gelombang membahayakan pelayaran kapal. Di sisi lain, evakuasi korban yang tertimbun lumpur masih terkendala alat berat.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA