Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Telepon Raja Salman, Krisis Yordan, & Siapa Pangeran Hamzah?

Senin 05 Apr 2021 10:35 WIB

Red: Elba Damhuri

Pangeran Hamzah bin Hussein

Foto:
Yordania menahan Pangeran Hamzah yang dituduh berkomplot dengan asing ganggu keamanan

Tuduhan Hamzah Berkomplot dengan Asing

Pangeran Hamzah bin Hussein dituduh berhubungan dengan pihak asing atas rencana untuk mengacaukan Yordania. Ayman Safadi mengatakan Pangeran Hamzah telah dipantau selama beberapa waktu terkait rencana jahatnya itu.

"Penyelidikan telah memantau komunikasi Pangeran dengan pihak asing untuk mengguncang Yordania," kata Safadi. 

Safadi mengatakan badan intelijen asing menghubungi istri Pangeran Hamzah dan mengatur penerbangan bagi pasangan tersebut untuk meninggalkan Yordania. Safadi menambahkan penyelidikan awal menunjukkan adanya aktivitas dan gerakan Pangeran Hamzah yang secara langsung mempengaruhi keamanan dan stabilitas negara Yordania.

Seorang mantan pejabat AS yang mengetahui kejadian-kejadian di Yordania mengatakan plot tersebut, yang dia gambarkan sebagai hal yang kredibel dan berbasis luas tetapi tidak akan terjadi, tidak melibatkan kudeta fisik. 

Sebaliknya, mereka yang terlibat berencana untuk mendorong protes yang akan tampak sebagai pemberontakan populer dengan massa di jalan dengan dukungan kesukuan.

photo
Raja Abdullah dari Yordania saat berada di Istana Elysee, Paris, Prancis. - (AP Photo/Francois Mori)
 

Meski ada ancaman serius, Raja Abdullah memutuskan untuk berbicara langsung dengan Pangeran Hamzah dan menyelesaikannya dalam keluarga saja.

Safadi mengatakan ada 14-16 orang telah ditangkap sehubungan dengan plot jahat terhadap Yordania. Saat ini keluarga kerajaan sedang berupaya untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Tapi Pangeran Hamzah tidak mau bekerja sama. 

Pihak keamanan Yordania telah meminta mereka yang terlibat dalam plot tersebut dirujuk ke pengadilan keamanan negara. Pangeran Hamzah pun kini telah ditempatkan di bawah tahanan rumah. 

“Tindakan ini keluar dari tradisi dan nilai-nilai keluarga Hashemite,” kata Safadi.

Orang kepercayaan raja yang kemudian menjadi menteri keuangan, Bassem Awadallah dan mantan utusan kerajaan Sharif Hassan bin Zaid, juga ditangkap bersama dengan tokoh-tokoh lain yang tidak disebutkan namanya.

Penangkapan pejabat tinggi yang dekat dengan anggota keluarga kerajaan jarang terjadi di Yordania. Awadallah sendiri merupakan kekuatan pendorong di balik reformasi ekonomi yang telah mengundurkan diri sebagai ketua pengadilan kerajaan pada 2008.  Dia dikenal kritis kepada Pemerintah Yordania.

Namun, Yordania tidak menjelaskan pihak asing yang dimaksud akan mengganggu keamanan dan stabilitas di negara kerajaan itu. Yordania selama ini menjadi sekutu dekat Saudi, Mesir, Amerika Serikat, hingga Turki.

Pemerintah Turki pun menyatakan keprihatinan atas penangkapan terhadap mantan kepala Pengadilan Kerajaan Yordania serta mantan pejabat lainnya karena alasan keamanan.

"Kami prihatin atas peristiwa yang dimulai dengan penahanan beberapa individu di Yordania dengan alasan bahwa mereka menimbulkan ancaman bagi stabilitas negara," kata pernyataan kementerian luar negeri Turki. 

Karena Yordania adalah negara kunci untuk perdamaian di Timur Tengah, kementerian Turki mengatakan stabilitas dan perdamaian sama pentingnya dengan Turki. Turki menegaskan dukungan kuat untuk perdamaian, kemakmuran, dan kesejahteraan Raja Abdullah II, pemerintah Yordania, dan rakyatnya.

Pangeran Hamzah mengatakan dalam sebuah rekaman video bahwa dia sedang dalam tahanan rumah dan telah diberitahu untuk tinggal di rumah dan tidak menghubungi siapa pun. 

Berbicara dalam bahasa Inggris dalam video tersebut, yang disampaikan oleh pengacaranya kepada BBC, Pangeran Hamzah menjelaskan dia bukan bagian dari konspirasi asing dan mengecam sistem yang berkuasa sebagai korup.

Kesejahteraan Yordania, kata dia, ditempatkan di urutan kedua oleh sistem pemerintahan yang telah memutuskan bahwa kepentingan pribadi, kepentingan keuangan, korupsi lebih penting daripada kehidupan dan martabat serta masa depan sepuluh juta orang yang tinggal di sini.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA