Ahad 04 Apr 2021 11:15 WIB

Inggris Klaim AstraZeneca Aman Pasca-Tujuh Orang Meninggal

MHRA menyebut manfaat vaksin Covid-19 AstraZeneca lebih besar dalam cegah Covid-19.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Yudha Manggala P Putra
Vaksin AstraZeneca.
Foto: AP/Valentina Petrova
Vaksin AstraZeneca.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Regulator obat-obatan Inggris (MHRA) mendesak masyarakat untuk terus menggunakan vaksin virus korona AstraZeneca. Pernyataan itu diungkapkan setelah laporan tujuh orang di Inggris telah meninggal karena pembekuan darah yang langka setelah mendapatkan suntikan AstraZeneca.

MHRA mengatakan tidak jelas apakah suntikan menyebabkan pembekuan darah. MHRA memastikan tinjauan ketat terhadap laporan tentang jenis pembekuan darah yang langka dan spesifik sedang berlangsung.

MHRA mengatakan pada Jumat (2/4) malam bahwa tujuh orang telah meninggal akibat pembekuan darah setelah divaksin dengan AstraZeneca. Namun MHRA tidak mengungkapkan informasi apa pun tentang usia atau kondisi kesehatan mereka.

Secara total, MHRA mengatakan telah mengidentifikasi 30 kasus kejadian pembekuan darah langka dari penerima 18,1 juta dosis AstraZeneca yang diberikan hingga dan termasuk 24 Maret. Risiko yang terkait dengan jenis pembekuan darah ini diklaim sangat kecil.

"Manfaat vaksin Covid-19 AstraZeneca dalam mencegah infeksi Covid-19 dan komplikasinya terus lebih besar daripada risikonya dan masyarakat harus terus mendapatkan vaksinnya jika diundang," kata June Raine selaku kepala eksekutif MHRA dilansir dari AP pada Ahad (4/4).

Diketahui, kekhawatiran atas vaksin AstraZeneca telah mendorong beberapa negara termasuk Kanada, Prancis, Jerman dan Belanda untuk membatasi penggunaannya untuk orang tua. Inggris, yang telah meluncurkan vaksin virus korona lebih cepat daripada negara Eropa lainnya, sangat bergantung pada vaksin AstraZeneca, yang dikembangkan oleh para ilmuwan di Universitas Oxford.

Pandangan MHRA tentang manfaat relatif dari vaksin tersebut juga dimiliki oleh European Medicines Agency. Dikatakan bahwa hubungan sebab akibat antara pembekuan darah yang tidak biasa pada orang yang telah mendapatkan vaksin “tidak terbukti, tetapi mungkin,” dan bahwa manfaat vaksin lebih besar daripada risiko efek sampingnya. Organisasi Kesehatan Dunia juga mendesak negara-negara untuk terus menggunakan suntikan itu.

Di sisi lain, Adam Finn selaku profesor pediatri di Universitas Bristol, mengatakan sebenarnya tujuh kasus pembekuan darah berujung kematian berarti sangat jarang dalam konteks jutaan suntikan yang dilakukan di Inggris. Fakta ini harusnya membuat masyarakat tetap percaya pada vaksin AstraZeneca.

"Menerima vaksin sejauh ini merupakan pilihan teraman dalam hal meminimalkan risiko individu terkena penyakit serius atau kematian," ujar Finn.

Pandangan yang lebih rinci pada temuan MHRA menunjukkan bahwa dari 30 kasus, 22 terkait dengan trombosis sinus vena serebral, yang menghentikan pengurasan darah dari otak dengan benar, dan delapan terkait dengan peristiwa trombosis lain dengan trombosit rendah. Dikatakan tidak ada laporan tentang peristiwa pembekuan darah di sekitar vaksin Pfizer / BioNTech, yang juga telah diluncurkan secara luas di Inggris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement