Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Lima Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Sekolah Tatap Muka

Sabtu 03 Apr 2021 10:13 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah / Red: Ratna Puspita

Sekolah Tatap Muka (ilustrasi)

Sekolah Tatap Muka (ilustrasi)

Foto: Republika/Mgrol100
Lima hal itu menyangkut lima pihak, yakni pemda, sekolah, guru, orang tua, dan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan setidaknya ada lima hal yang harus disiapkan sebelum sekolah tatap muka dilakukan. Kelima hal tersebut adalah pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, dan anak. 

"Seluruh penyiapan infrastruktur dan protokol kesehatan di satuan pendidikan harus dilakukan terlebih dahulu, bukan berjalan secara paralel. Kita wajib melakukan perlindungan berlapis untuk keselamatan anak-anak saat sekolah tatap muka," kata Retno, dalam keterangannya, Sabtu (3/4). 

Baca Juga

Ia mengatakan, pemerintah daerah harus melakukan pemetaan di wilayahnya. Sekolah yang siap dan belum siap harus diketahui datanya oleh pemerintah daerah. Bagi sekolah yang sudah siap, perlu dipastikan melalui pengawasan langsung ke lapangan. Sementara untuk yang belum siap, perlu ada intervensi anggaran untuk membantu penyiapan. 

Pemerintah daerah, kata Retno, juga harus menyinergikan dinas-dinas yang ada, misalnya dinas pendidikan dan dinas kesehatan. "Pihak sekolah juga harus memiliki nota kesepahaman dengan fasilitas kesehatan terdekat, apakah puskesmas, rumah sakit, atau bahkan mungkin praktik bidan/dokter," kata dia. 

Komponen kedua yang harus disiapkan adalah sekolah. Sekolah perlu menyiapkan seluruh infrastruktur yang dibutuhkan dalam adaptasi kebiasaan baru. 

Sekolah juga harus memiliki ruang ganti untuk warga sekolah yang naik kendaraan umum dan berganti seragam. Ruang isolasi sementara juga perlu dibuat jika ada warga sekolah yang sakit. 

Selanjutnya, Retno mengatakan, guru juga harus betul-betul disiapkan. Para guru harus siap mengajar di kelas tanpa melepas masker atau meletakkan masker di dagu dan di dada. Ia menegaskan, guru harus menjadi model yang dapat dicontoh peserta didik. 

Para guru juga wajib melakukan pemetaan materi pembelajaran antara materi yang sulit dan mudah. "Untuk materi yang sulit dan sangat sulit dibahas saat PTM, sedangkan materi yang mudah dan sedang diberikan di PJJ. Mengingat PTM hanya separuh kelas, maka PTM dan PJJ harus dilakukan secara bergantian," kata Retno menjelaskan. 

Komponen lainnya yang harus disiapkan adalah orang tua. Para orang tua harus melatih anak-anaknya menggunakan masker setidaknya empat jam tanpa dilepas. Retno menyatakan, setiap hari anak bisa dilatih menggunakan masker di rumah sehingga terbiasa ketika di sekolah nanti. 

Orang tua juga harus bekerjasama untuk memastikan bahwa anak-anaknya langsung pulang setelah selesai sekolah. Retno menegaskan, begitu anak keluar dari lingkungan sekolah maka harus menjadi tanggung jawab orang tua. 

Selain itu, komponen terakhir yang penting untuk disiapkan adalah anak itu sendiri. Anak-anak, kata Retno, adalah kelompok utama yang wajib diedukasi untuk mengubah perilaku saat PTM di saat pandemi.  

"Kalau anak-anak sudah paham mengapa harus menggunakan masker, mengapa harus jaga jarak, mengapa harus cuci tangan, mengapa harus langsung pulang ke rumah, dan sebagainya, maka anak bisa mengikuti uji coba tatap muka," kata dia lagi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA