Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Kunjungi China, Erick Minta Kerja Sama IBC-CATL Dipercepat

Jumat 02 Apr 2021 18:34 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

Menteri BUMN Erick Thohir bersama Menlu Retno Marsudi dan Mendag M Lutfi melakukan pembicaraan bilateral dengan pejabat dan pengusaha China di Wuyi, Fujian, China.

Menteri BUMN Erick Thohir bersama Menlu Retno Marsudi dan Mendag M Lutfi melakukan pembicaraan bilateral dengan pejabat dan pengusaha China di Wuyi, Fujian, China.

Foto: Caption
Kerja sama antara CATL dan IBC punya nilai investasi sekitar 5 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri BUMN Erick Thohir melakukan kunjungan kerja ke China bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Perdagangan M Lutfi. Dalam pertemuan dengan Contemporary Amperex Technology Co.Ltd (CATL), Erick Thohir meminta agar realisasi kerja sama konsorsium holding industri baterai Indonesian Batery Company (IBC) dengan CATL bisa dilakukan segera.

"Pertemuan saya dengan CATL untuk memastikan bahwa kerja sama dengan IBC bisa berjalan dengan baik. Lebih spesifik kami berharap agar realisasi kerja sama ini bisa dipercepat," ujar Erick dari Wuyi, Fujian, Jumat (2/4).

Erick menjelaskan kerja sama antara CATL dan IBC punya nilai investasi sekitar 5 miliar dolar AS. Nantinya CATL akan masuk mulai dari sisi hulu dari konsorsium IBC ini.

Baca Juga

Dalam pertemuan tersebut, Erick memastikan kepada CATL bahwa apabila ada kendala terkait kerja sama ini maka Kementerian BUMN bersama BKPM akan menyelesaikan kendala tersebut. "Kami juga ingin memastikan kalau ada kesulitan di lapangan BKPM untuk bisa menyelesaikan semua halangan," tambah Erick.

IBC resmi dibentuk pada Jumat (26/3) oleh Menteri BUMN Erick Thohir. IBC didirikan sebagai holding untuk mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik (Electric Vehicle Battery) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Erick mengatakan pembentukan IBC merupakan strategi pemerintah, khususnya Kementerian BUMN memaksimalkan potensi sumber daya mineral di Indonesia.

"Kita ingin menciptakan nilai tambah ekonomi dalam industri pertambangan dan energi, terutama nikel yang menjadi bahan utama baterai EV, mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik, dan memberikan kontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, investasi skala besar seperti ini akan membuka banyak lapangan kerja, khususnya generasi muda kita," papar Erick.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA