Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Studi: Ramadhan Saat Pandemi di Inggris tidak Merugikan

Jumat 02 Apr 2021 10:03 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

Studi: Ramadhan Saat Pandemi di Inggris tidak Merugikan. Jamaah masjid Al Abbas Islamic Center, Balsal Heath,  Birmingham Inggris menerima suntikan vaksin Covid-19, Kamis (21/1). Diharapkan sekitar 300 hingga 500 orang menerima vaksin di tempat ini.REUTERS/Carl Recine

Studi: Ramadhan Saat Pandemi di Inggris tidak Merugikan. Jamaah masjid Al Abbas Islamic Center, Balsal Heath, Birmingham Inggris menerima suntikan vaksin Covid-19, Kamis (21/1). Diharapkan sekitar 300 hingga 500 orang menerima vaksin di tempat ini.REUTERS/Carl Recine

Foto: REUTERS/CARL RECINE
Ibadah Ramadhan tidak memiliki efek merugikan pada kematian akibat Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Praktik puasa selama Ramadhan di Inggris tahun lalu tidak menyebabkan tingkat kematian Covid-19 yang lebih tinggi di kalangan Muslim. Hal ini disampaikan oleh sebuah lembaga penelitian, Kamis (1/4).

Menurut sebuah laporan yang disampaikan Journal of Global Health, tidak ada bukti yang menunjukkan Muslim Inggris yang menjalankan ibadah di bulan suci lebih mungkin meninggal karena infeksi virus Covid-19.

 

Baca Juga

Di Inggris, ada lebih dari tiga juta Muslim. Jumlah ini menduduki sekitar lima persen dari populasi Inggris dengan sebagian besar berasal dari Asia Selatan. Banyak komunitas Muslim terkena dampak pandemi secara tidak proporsional, bersamaan dengan kelompok minoritas lainnya.

“Temuan kami menunjukkan praktik ibadah yang terkait dengan Ramadhan tidak memiliki efek merugikan pada kematian akibat Covid-19,” kata laporan itu dikutip di Aljazirah, Jumat (2/4).

Laporan yang sama menyebut ada banyak komentar yang menyatakan perilaku dan praktik budaya yang dilakukan komunitas minoritas membawa efek atas peningkatan keterpaparan mereka terhadap virus tersebut. Hal ini juga mengacu pada beberapa klaim yang mengatakan mungkin ada lonjakan infeksi selama Ramadhan.

Namun, hasil studi menyebut klaim tersebut tidak berdasarkan bukti apa pun. Sebaliknya, komentar serupa adalah gangguan yang tidak membantu dalam faktor penentu sosial kesehatan, terutama ketidaksetaraan kondisi hidup dan kerja.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA