Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Setelah KLB Ditolak Kemenkumham, Moeldoko Bicara Terorisme

Kamis 01 Apr 2021 14:24 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Bayu Hermawan

Kepala KSP Moeldoko

Kepala KSP Moeldoko

Foto: Tangkapan Layar
Moeldoko menegaskan pemerintah memiliki perangkat hukum untuk bongkar sel terorisme.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menegaskan tidak ada tempat bersembunyi bagi terorisme, termasuk bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. 

Moeldoko menegaskan bahwa pemerintah memiliki perangkat hukum dan strategi yang lengkap untuk membongkar sel teror hingga ke akar-akarnya. Pernyataan Moeldoko ini merespons dua insiden terorisme yang belakangan terjadi, yakni aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan Mabes Polri. 

Baca Juga

"Termasuk melalui pendekatan hard approach. Jadi, tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam aksi terorisme di Indonesia, seluruhnya akan dibongkar. Upaya penegakan hukum akan dilaksanakan dengan tegas, adil, dan seefektif mungkin," ujar Moeldoko melalui keterangan tertulis, Kamis (1/4). 

Presiden Jokowi pun, kata Moeldoko, telah menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi terorisme di Tanah Air. Presiden juga telah memerintahkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Panglima TNI, dan Kepala Badan Intelijen Negara untuk saling berkoordinasi dan meningkatkan kewaspadaan.

"Hal demikian dilakukan untuk menjamin bahwa negara hadir untuk memastikan keamanan seluruh rakyat Indonesia dari rasa takut," kata Moeldoko. 

Selain itu, mantan panglima TNI itu juga menambahkan bahwa terorisme adalah musuh bersama seluruh rakyat Indonesia. Meoldoko mengimbau masyarakat Indonesia untuk saling menjaga satu sama lain, tetap waspada dan tenang, serta membantu aparat penegak hukum bila memiliki informasi maupun keterangan terkait aksi terorisme belakangan ini.

Baca juga : KLB Ditolak, Kader Demokrat: Keadilan Telah Ditegakkan

"Terakhir, ancaman terorisme adalah nyata, dekat, dan berbahaya sehingga dihimbau untuk menghentikan opini-opini konspirasi yang tidak berdasar, tidak bertanggung jawab, dan justru memperkeruh situasi," katanya. 

Sebelumnya, Presiden Jokowi secara khusus menginstruksikan peningkatan kewaspadaan. Ia memerintahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kepala BIN Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan untuk memperketat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap segala ancaman. 

"Dan, kita semuanya bersatu melawan terorisme. Saya juga telah memerintahkan kepada Kapolri, Panglima TNI, dan Kepala BIN untuk meningkatkan kewaspadaan," kata Presiden. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA