Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Gangguan Menstruasi Perempuan, Pahami Gejala dan Penyebabnya

Kamis 01 Apr 2021 03:57 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Darah Menstruasi (Ilustrasi). Siklus menstruasi perempuan dipengaruhi oleh perubahan hormon dimana melibatkan estrogen dan progesteron. Ketidakseimbangan salah satu atau kedua hormon ini memicu dapat terjadinya haid tidak teratur.

Darah Menstruasi (Ilustrasi). Siklus menstruasi perempuan dipengaruhi oleh perubahan hormon dimana melibatkan estrogen dan progesteron. Ketidakseimbangan salah satu atau kedua hormon ini memicu dapat terjadinya haid tidak teratur.

Foto: Google
Salah satu penyebab adanya gangguan menstruasi adalah Mioma Uteri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap wanita memasuki fase remaja akan mengalami siklus menstruasi. Siklusnya beragam, normal menstruasinya berkisar antara tiga hingga tujuh hari dengan jarak untuk setiap siklusnya mulai dari 21 hingga 35 hari. 

Siklus menstruasi perempuan dipengaruhi oleh perubahan hormon dimana melibatkan estrogen dan progesteron. Ketidakseimbangan salah satu atau kedua hormon ini memicu dapat terjadinya haid tidak teratur. 

Penyebabnya juga beragam, bisa karena kelelahan, stress, obesitas atau terlalu kurus, menyusui, diet berlebihan, hingga penggunaan pil KB yang tidak sesuai. Selain beberapa faktor penyebab yang telah disebutkan, dokter spesialis penyakit kandungan dan kebidanan, turut menjelaskan tentang Mioma Uteri atau disebut Mioma Rahim (Miom).

Salah satu penyebab adanya gangguan menstruasi adalah Mioma Uteri, yaitu merupakan tumor jinak yang terdapat pada dinding rahim. Meskipun jinak,  tumor pada dinding rahim dapat tumbuh besar hingga membuat pengidapnya mengalami rasa nyeri dan gangguan saat haid berlangsung," tutur 

Dokter Aripin Syarifudin Sp.OG., melalui edukasi Siloam Hospitals secara live di akun Instagram milik Siloam Hospitals Silampari, Senin (29/3). 

Sebelumnya dijelaskan mengenai Mioma yang merupakan sel tumor yang sifatnya jinak. Gangguan kesehatan ini memiliki nama lain uteri fibroid, mioma, dan leiomyoma. Mioma sendiri berasal dari pertumbuhan abnormal sel pada bagian otot polos rahim. 

"Namun, mioma terjadi bisa tanpa menimbulkan gejala, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut melalui pemeriksaan USG untuk mendeteksi ada tidaknya mioma tersebut," papar Aripin menerangkan yang diikuti puluhan viewer di live instagram.

Mioma muncul pada rentang usia reproduktif, antara 16 hingga 50 tahun, masa ketika hormon reproduksi berperan aktif dalam tubuh. Semua wanita rentan mengalami mioma, tetapi risiko lebih tinggi dialami wanita dengan berat badan berlebihan atau obesitas.

Peningkatan berat badan turut memicu peningkatan hormon estrogen. Lalu, risiko juga sama tingginya bagi wanita yang memang memiliki keluarga yang juga mengidap mioma rahim alias faktor keturunan. Remaja yang memulai menstruasi pertamanya terlalu dini dan pola hidup yang kurang sehat juga bisa memicu munculnya mioma.

Pada kesempatan selanjutnya, Aripin, dokter spesialis penyakit kandungan dan kebidanan Siloam Hospitals Silampari ini pun menekankan, bahwa tidak semua kelainan menstruasi dikarenakan mioma rahim, bisa juga dikarenakan faktor indung telur (kista ovarium), sehingga penting untuk setahun sekali medical check up atau evaluasi ultrasonografi (USG) untuk deteksi dini kelainan di organ kewanitaan. 

"Gejala yang sering terjadi jika perempuan memiliki mioma dalam rahim, yakni perdarahan menstruasi lebih banyak dengan durasi yang lebih lama dibandingkan dengan haid yang normal," ungkap dr. Aripin Syarifudin, SpOG menerangkan hal tersebut. 

Gejala lain yang dapat timbul adalah perut yang membesar atau teraba adanya benjolan yang membedar. Bisa disertai, buang air kecil menjadi lebih sulit, sering sebagai akibat dari adanya tekanan benjolan di rahim pada bagian kandung kemih. Atau bahkan kesulitan dalam hal buang air besar. 

Ketika pengidap miom melakukan hubungan intim, akan timbul rasa nyeri pada bagian rahim, pun ketika tidak sedang berhubungan badan, rasa nyeri bisa tetap terasa, terlebih kala masa haid datang. Jika tidak segera ditangani, bisa terjadi gangguan kesuburan.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA