Rabu 31 Mar 2021 15:18 WIB

Nasabah Protes, AIA Diminta Bersikap Terbuka dan Jujur

Harusnya AIA mulai melakukan audit atau evaluasi internal termasuk kepada agennya

Asuransi Jiwa AIA
Asuransi Jiwa AIA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ribuan nasabah AIA menyampaikan protes atas hilangnya sebagian dana mereka ketika hendak dicairkan. Penulis buku Public Relations Crisis, Dr. Firsan Nova, menyarankan dalam menyikapi kasus ini pihak AIA harus terbuka dan jujur dalam masalah ini.

“Harusnya mereka mulai melakukan audit atau evaluasi internal termasuk pada para agennya. Karena agenlah yang berhadapan langsung dengan nasabah. Di sini dibutuhkan kebesaran sikap untuk berani jujur dan terbuka kepada publik. Dengan sikap seperti itulah maka AIA akan bisa mengisolasi konflik agar tidak semakin meluas yang nantinya bisa merugikan secara bisnis,” kata Firsan di Jakarta, Rabu (31/3).

Menurut Firsan lagi, agar tak membesar dan semakin parah, AIA perlu melakukan empat isolasi yaitu, isolasi isu, isolasi stakeholder, isolasi dampak krisis dan isolasi media. “Inilah yang harus segera ditempuh oleh AIA. Soalnya secara psikologis, ramainya pemberitaan negatif ini telah mendorong semakin besarnya tekanan nasabah untuk menarik dana mereka,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui sebuah grup di Facebook bernama "Korban Penipuan Asuransi AIA" terus bertambah jumlah anggotanya. Grup yang bersifat terbuka itu hingga Rabu siang telah diikuti Oleh 4.800 anggota yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Saya baru saja tutup asuransi AIA syariah investasi, perbulan sebesar Rp 400rb

selama 7th. Secara matematika nabung 400rbx84= Rp33.600.000, nyatanya saya hanya dapat Rp 22.000.000 lebih saja. Sungguh kejam AIA, keringat saya selama 7 tahun di maling segitu gedenya. Janji untung malah buntung,” begitu tulis pemilik akun Yoga Setiawan.

Firsan mengatakan keluhan nasabah semacam itu harusnya menjadi catatan penting bagi manajemen AIA untuk melakukan koreksi. Namun demikian, ia juga mengingatkan pentingnya usaha melakukan engagament kepada para nasabah.

“Situasi semacam ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Harus ada langkah-langkah sistematis untuk mengurangi potensi kerugian yang lebih besar,” kata CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communications yang sudah berpengalaman menangani sejumlah persoalan krisis komunikasi publik.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement