Rabu 31 Mar 2021 14:56 WIB

Kerugian Kilang Balongan Ditaksir 8 Juta Dolar AS

Nilai kerugian itu baru hitungan potential loss karena shutdown.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha
Tim HSSE Pertamina Memadamkan api di seputar lokasi kebakaran Kilang Balongan.
Foto: Pertamina
Tim HSSE Pertamina Memadamkan api di seputar lokasi kebakaran Kilang Balongan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pascainsiden kebakaran yang melalap tiga tangki penampungan BBM di wilayah Kilang Balongan, Pertamina terancam merugi. Kerugiannya ditaksir bisa mencapai 8 juta dolar AS atau setara dengan Rp 115 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov menjelaskan, kerugian tersebut dihitung dari asumsi biaya produksi BBM sebesar 20 dolar AS per barel. Jika selama shutdown kilang Pertamina kehilangan 400 ribu barel, kerugian tersebut bisa mencapai 8 juta dolar AS.

Baca Juga

"Itu baru hitungan potential loss karena shutdown. Tapi, kan ada kerugian lain, seperti kehilangan aset yang terbakar. Itu angkanya tentu lebih besar," ujar Abra kepada Republika.co.id, Rabu (31/3).

Menurutnya, Pertamina telah memastikan akan menggantikan produksi yang hilang dari Kilang Balongan dengan mengoptimalkan produksi dari dua kilang lain, yakni Kilang Cilacap dan Kilang TPPI. Akan tetapi, belum dapat dipastikan apakah pengoptimalan produksi dari dua kilang tersebut dapat menutupi kehilangan produksi dari Kilang Balongan.

Abra mengatakan, Pertamina juga berpotensi menanggung ganti rugi kepada masyarakat atas kerusakan permukiman akibat insiden tersebut. Abra menilai, dampak lebih lanjut dari insiden kebakaran di Kilang Balongan, yakni reputasi Pertamina dalam industri migas. Terlebih, Pertamina tercatat tengah menggarap sejumlah proyek infrastruktur migas, khususnya kilang minyak.

Baca juga : 2 Pelajar Selamat Usai Dikabarkan Hilang Saat Ledakan Kilang

Masih menurut Abra, insiden ini sejatinya dapat menjadi momentum bagi Pertamina untuk tetap menarik investor. Langkah pertama yang dapat dilakukan, yakni dengan melakukan investigasi dan menyampaikan secara transparan mengenai kondisi yang ada.

"Dengan mitigasi risiko yang sudah berjalan, dapat menjadi risiko yang terukur. Selain itu, menunjukkan Pertamina berdaya tahan terhadap insiden," kata Abra.

Menurutnya, hal ini sudah terlihat dari konfirmasi Pertamina soal pasokan BBM yang terjaga. Selain itu, dari kejadian ini juga terlihat bahwa masih ada kebutuhan pembangunan kilang dalam negeri.

Apalagi, selama ini sekitar 60 persen kebutuhan BBM dalam negeri masih bersumber dari impor. "Artinya, investor juga lihat urgensi pengembangan dan pembangunan kilang masih tinggi sehingga prospek masih menjanjikan ke depan," kata Abra.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement