Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

PBB Cari 10 Miliar Dolar AS untuk Bantu Suriah

Selasa 30 Mar 2021 09:36 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Seorang anak berjalan di dekat rumah yang hancur akibat serangan udara di kota Idlib, Suriah. (AP Photo/Felipe Dana)

Seorang anak berjalan di dekat rumah yang hancur akibat serangan udara di kota Idlib, Suriah. (AP Photo/Felipe Dana)

Foto: AP
Kebutuhan Suriah pada bantuan kemanusiaan sangat besar.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- PBB mendesak pendonor internasional mengumpulkan 10 miliar dolar AS untuk membantu Suriah yang hancur akibat perang sipil dan dihantam pandemi Covid-19. PBB mengatakan kebutuhan Suriah pada bantuan kemanusiaan sangat besar.

Hal ini disampaikan dalam pertemuan tahunan yang bertujuan menjaga pengungsi Suriah dari jurang kelaparan. Kegiatan yang diselenggarakan Uni Eropa ini berusaha mengumpulkan 4,2 miliar dolar AS untuk masyarakat Suriah dan 5,8 miliar dolar AS untuk pengungsi dari Suriah dan negara-negara Timur Tengah yang menampung mereka.

PBB mengatakan sejak pemerintah Presiden Bashar al-Assad menindak keras unjuk rasa pro-demokrasi yang mengarah pada perang sipil 2011 lalu, sekitar 24 juta orang membutuhkan bantuan dasar. Kemudian bertambah empat juta dalam beberapa tahun terakhir.

"Sudah sepuluh tahun rakyat Suriah mengalami bencana dan kesusahan, kini kondisi hidup benar-benar buruk, pandemi Covid-19 dan penurunan ekonomi mendorong semakin banyak kelaparan, malnutrisi dan penyakit, pertempuran berkurang tapi tidak memberikan perdamaian," kata kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) Mark Lowcock, Rabu (30/3).

Sejak kesepakatan yang mengakhiri pengeboman Rusia tahun lalu pertempuran antara tentaran Suriah dan pemberontak mulai mereda. Tapi serangan-serangan udara Rusia, Iran dan militer pemerintah Suriah masih mengincar pos-pos pemberontak.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dijadwalkan berpidato dalam pertemuan ini. Pada peringatan 10 tahun perang sipil Suriah yang jatuh 10 Maret lalu Guterres mengatakan Suriah 'hidup dalam mimpi buruk'. Hampir setengah anak-anak di negara itu tidak pernah hidup tanpa perang dan 60 persen populasi negara itu berada di jurang kelaparan.

Dalam pernyataan terpisah Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (ICRC/IFRC) meminta pendonor internasional untuk membantu membangun kembali Suriah. Terutama memperbaiki layanan air, listrik dan kesehatan yang vital. "Infrastruktur kami hancur," kata Khaled Hboubati dari Palang Merah Arab Suriah.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA