Orang-Orang yang Wajib Bayar Fidyah Puasa

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

 Sabtu 10 Apr 2021 07:33 WIB

Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Ilustrasi Ramadhan

Ada beberapa orang yang wajib menggantikan puasa dengan membayar fidyah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bagi sebagian orang yang memiliki utang puasa, wajib segera membayarnya sebelum Ramadhan berikutnya tiba. Namun, ada beberapa orang yang wajib menggantikan puasa dengan membayar fidyah.

Ahmad Zarkasih menjelaskan dalam buku Bekal Ramadhan, fidyah bermakna harta untuk tebusan. Secara istilah, fidyah didefinisikan sebagai pengganti untuk membebaskan seorang mukallaf dari larangan yang berlaku padanya. Kewajiban membayar fidyah puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadhan berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 184:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Tidak semua orang dibolehkan mengganti utang puasa dengan membayar fidyah. Mereka yang wajib menggantikan adalah orang sakit yang tidak ada harapan sembuh, orang tua renta, wanita hamil dan menyusui, dan orang yang menunda Qadha’ sampai lewat Ramadhan berikutnya.

Bentuk pembayaran fidyah pada dasarnya berupa makanan. Para ulama menyebutkan yang diberikan kepada fakir miskin adalah bahan makanan mentah bukan makanan yang matang dan siap disantap. Bahan makanan mentah itu bisa disimpan dalam waktu lama. Terkait ukurannya, Mazhab Maliki dan Syafi’i menetapkan ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Rasulullah.

Istilah mud maksudnya gandum yang diwadahi dengan kedua telapak tangan yang disatukan, seperti saat orang sedang berdoa yang menadahkan kedua tangannya. Jika diukur sekarang, satu mud setara dengan 675 gram atau 0,688 liter.

Para ulama sepakat, fidyah harus dibayarkan sampai masuknya lagi bulan Ramadhan tahun berikutnya sebagaaimana masa mengqadha’ puasa. Imam Nawawi menyebutkan dalam Mazhab Syafi’i, orang yang sakit atau sudaah tua belum diperkenankan membayar fidyah kalau belum masuk waktu berpuasa. Setidaknya, kebolehan itu baru berlaku sejak terbitnya fajar di hari dia tidak berpuasa tapi bukan pada malamnya atau hari-hari sebelumnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X