Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

Menebak Motif di Balik Bom Bunuh Diri Makassar

Senin 29 Mar 2021 13:45 WIB

Red: Indira Rezkisari

Anggota polisi mengumpulkan sisa serpihan ledakan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (29/3/2021). Kepolisian masih melakukan olah TKP serta mengumpulkan serpihan sisa ledakan pada hari kedua pascaledakan bom bunuh diri yang terjadi pada Minggu (28/3/2021) di depan gereja tersebut.

Anggota polisi mengumpulkan sisa serpihan ledakan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (29/3/2021). Kepolisian masih melakukan olah TKP serta mengumpulkan serpihan sisa ledakan pada hari kedua pascaledakan bom bunuh diri yang terjadi pada Minggu (28/3/2021) di depan gereja tersebut.

Foto: ANTARA/Arnas Padda
Polisi lakukan penggerebekan sejumlah terduga teroris diduga terkait bom Makassar.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rizky Suryarandika, Antara

Pascapengeboman Gereja Katedral Makassar kepolisian belum mengungkap lebih lanjut apa motif di balik aksi terkutuk tersebut. Pakar Terorisme asal Universitas Indonesia, Ridwan Habib, menyebut kemungkinan ada tiga motif pelaku pengeboman Gereja di Makassar.

Baca Juga

Salah satu motif diduga berkaitan dengan menjalankan prinsip teroris global. Ridwan menjabarkan motif pertama pengeboman ialah melaksanakan keyakinan para pelaku. Para pelaku yakin meninggal di tempat saat lakukan serangan tergolong tindakan mulia.

"Apalagi dilakukan pertengahan Sya'ban dalam pemahaman mereka bisa langsung masuk surga tanpa hisab," kata Ridwan pada Republika, Senin (29/3).

Kemudian motif kedua pengeboman, menurut Ridwan karena ingin balas dendam. Ia menduga salah satu pelaku masih ada hubungan keluarga dengan  terduga teroris yang ditembak mati aparat kepolisian pada Januari 2021 di Makassar.

"Pelaku yang perempuan masih ada hubungan dengan Moh Rizaldy sebagai kakaknya, entah kakak sepupu atau kakak kandung perlu dicek lagi," ujar Ridwan.

Adapun faktor ketiga, lanjut Ridwan pelaku bom ingin menunaikan ajaran yang diterimanya untuk dipraktikkan secara global. Para pelaku seperti halnya teroris lain di dunia ingin membentuk rasa saling tidak percaya antara pemerintah dengan masyarakat dan antara masyarakat dengan kelompok masyarakat lain.

Baca juga : MUI Meminta Bom Makassar Tidak Dikaitkan dengan Agama

"Ini sesuai kitab rujukan mereka Miftahul Syiro ditulis di era Alqaeda Usamah bin Ladin. Meraka masih pegang itu sebagai pedoman. Miftah itu pembuka, syiro itu konflik. Mereka mensyaratkan kalau mau menguasai negara-negara Islam maka negara itu harus dibuat konflik dulu," ungkap Ridwan.

Ridwan menjelaskan fenomena semacam itu terjadi di beberapa negara Islam yang pemerintahannya tumbang, salah satunya Suriah. "Dulu pernah mereka coba masuk di Pilgub DKI tapi bisa ditangani dengan baik," sebut Ridwan.

Mengenai bahan peledak, Ridwan menduga triaceton triperoxide (TATP) adalah bahan peledak yang dipakai. Katanya, bahan peledak itu bisa diperoleh secara daring.

Ridwan mendasari dugaannya dengan mengamati flare atau nyalanya api dan kualitas asap dalam video pengeboman yang beredar di dunia maya. "Memang ya kalau saya lihat dari flare-nya, asap yang mengepul di sekitar lokasi dan kepadatan bahannya ini kayaknya jenis TATP. Mengkhawatirkannya, TATP bisa dicari secara online," kata Ridwan.

Ridwan menyebut bahan peledak TATP sebenarnya turut dipakai oleh pelaku bom gereja di Surabaya pada 2018 lalu. Dalam aksi pengeboman itu, pelaku terungkap memperoleh bahan peledaknya secara daring. Ia juga menduga pelaku perakitan bom bukan amatir.

"Saya lihat-lihat dari cara merakitnya  orang ini (pembuat bom Katedral Makassar) nampaknya paham cara perakitan bom ya," ujar Ridwan.

Atas dasar ini, Ridwan menyebut ada dua kemungkinan terhadap pelaku. Pertama, pelaku bisa jadi seorang mantan napi terorisme yang punya pengalaman merakit bom. "Atau dia masuk daftar pencarian orang terorisme tapi belum tertangkap," ucap Ridwan.

Pengamat terorisme, Nasir Abbas, juga menduga aksi teroris Makassar sejalan dengan gaya Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ia meyakini kedua pelaku punya hubungan keluarga karena mereka sangat ketat soal muhrim.

Baca juga : Bom Makassar Terindikasi Pelakunya adalah Suami Istri?

"Maka bisa saja mereka sepasang suami istri atau kakak adik. Namun dari pengalaman sebelum nya ya hubungan suami istri, dan saya yakin status suami istri mereka secara nikah sirri, kecuali polisi temukan dokumen mereka di KUA," ucap Nasir.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Argo Yuwono, menyebutkan, dua pelaku bom bunuh diri di gerbang masuk Gereja Katedral adalah pasangan suami istri yang baru menikah enam bulan. "Betul pelaku pasangan suami istri baru menikah enam bulan," kata Argo dalam keterangannya, Senin.

Argo menjelaskan, identitas kedua pelaku bom bunuh diri tersebut telah diketahui. Pelaku laki-laki berinisial L dan perempuan berinisial YSF, berprofesi sebagai pekerja swasta.

"Penyelidikan masih terus dilakukan termasuk mengungkap pelakunya lainnya," ujar Argo. Menurut Argo, sejumlah tempat sudah digeledah untuk mencari bukti lainnya. Termasuk rumah tempat tinggal pelaku.

"Kita tunggu hasil kerja anggota di lapangan. Dan kami berharap semua dapat diungkap dengan jelas," kata Argo.

Argo memastikan pelaku merupakan bagian dari kelompok militan JAD yang pernah melakukan pengeboman di Jolo Filipina. "Pelaku berafiliasi dengan JAD," ujar Argo.

Peristiwa bom bunuh diri terjadi Ahad (28/3) sekitar pukul 10.20 WITA bertempat di gerbang depan Gereja Katerdal Jalan Kajaolalido, Kelurahan Baru, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengeboman dilakukan dua orang pelaku, datang ke gereja menggunakan sepeda motor matik dengan nomor polisi DD 5894 MD.

Baca juga : Siapa Pelaku Bom Makassar dan Apa Motifnya?

Akibat peristiwa tersebut, kedua pelaku meninggal dunia di tempat, dan korban luka dari masyarakat umum serta sekuriti gereja. Hingga kini korban luka akibat bom bunuh diri yang masih dirawat di rumah sakit tinggal 15 orang, 13 di antaranya di rawat di RS Bhayangkari Makassar dan dua lainnya di RS Siloam. "Dari 19 korban luka saat ini tinggal 15 orang, empat lainnya diperbolehkan pulang menjalani rawat jalan," kata Argo.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA