Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Mengapa Kebutuhan Bertuhan dan Beragama Sangat Mendasar?

Sabtu 27 Mar 2021 15:48 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Bertuhan dan beragama merupakan kebutuhan asasi umat manusia. Ilustrasi beragama

Bertuhan dan beragama merupakan kebutuhan asasi umat manusia. Ilustrasi beragama

Foto: Republika/Fakhri Hermansyah
Bertuhan dan beragama merupakan kebutuhan asasi umat manusia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Allah SWT menciptakan umat manusia tidak sekadar untuk menikmati kehidupan dan kesenangan di dunia. 

Lebih daripada itu manusia diciptakan untuk menyembah Allah SWT. Dalam Alquran Surat Al Mu'minun ayat 115-116 disebutkan: 

Baca Juga

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” Mengutip tafsir ath-Thabary, dijelaskan demikian:    

يقول تعالى ذكره: أفحسبتم أيها الأشقياء أنا إنما خلقناكم إذ خلقناكم، لعباً وباطلاً، وأنكم إلى ربكم بعد مماتكم لا تصيرون أحياء، فتجزون بما كنتم في الدنيا تعملون

“Tuhan berkata kepada mereka, “ Apakah kalian mengira, wahai orang-orang yang celaka, Kami menciptakan Kalian saat menciptakan kalian, main-main dan sia-sia belaka? Dan bahwa kamu tidak datang kepada Tuhanmu setelah kematianmu, lalu kalian akan dibalas atas apa yang kalian lakukan di dunia?”

Tafsir tersebut menjalaskan bahwa manusia tidak diciptakan sia-sia atau untuk bermain saja. Manusia memiliki tanggung jawab dalam hidupnya, seperti yang dijelaskan dalam firman Allah surat Al-Qiyamah ayat 36:  أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”

Allah, Yang Mahakuasa, tidak menciptakan manusia dengan sia-sia, tetapi menciptakannya untuk kebijaksanaan dan tujuan. Dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56-58 dijelaskan: 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ.إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”     

Syekh Al-Saadi mengatakan dalam tafsirnya, “Ini adalah tujuan, dimana Tuhan menciptakan jin dan umat manusia, dan mengirim semua utusan adalah untuk ibadahnya, termasuk mencari ilmu pengetahuan. 

Semakin besar pengetahuan hamba tentang Tuhannya, semakin lengkap ibadahnya, karena inilah Tuhan menciptakan orang-orang yang bertanggung jawab dan bukan membutuhkan mereka.  

Jadi tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Tuhan Yang Maha-Esa, yang dikenal sebagai agama, dan kebutuhan manusia akan agama lebih besar daripada kebutuhannya akan kebutuhan hidup lainnya. Karena seseorang harus mengetahui keridhaan Tuhan Yang Maha-Esa dan tempat amarahnya.”

Seseorang harus mengerjakan hal yang mendapat ridha dan menjauhi hal yang tidak dikehendaki Allah. Orang tidak dapat hidup tanpa syariah yang dengannya mereka dapat membedakan antara apa yang mereka harus lakukan dan apa yang mereka tinggalkan. 

Dan Tuhan, telah menanamkan orang-orang sejak zaman kuno untuk menyembah kepada-Nya. Namun dalam perjalanan waktu, mereka melakukan penyimpangan dengan menyembah selain Tuhan. Hal ini terbukti dalam surat Al-Araf ayat 172:  

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”  

Kebutuhan manusia akan Tuhan dan agama melebihi semua kebutuhan hidupnya. Mungkin salah satu indikasi bahwa religiusitas merupakan kebutuhan manusia adalah apa yang dirasakan seseorang dalam dirinya sendiri dari kelemahan di hadapan beberapa manifestasi kekuasaan Yang Mahakuasa, seperti angin kencang, laut yang bergolak, gempa bumi, dan gunung berapi.

Dan kebesaran kecerdasannya, dia tetap lemah di depan fenomena yang dengannya Tuhan menyengsarakan hamba-hambanya, sehingga manusia tahu dari dirinya sendiri bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk mendorong atau menjaga mereka, dan dari di sini kebutuhan manusia yang lebih besar akan dewa untuk menggunakan dan percaya padanya.

 

Sumber: islamweb

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA