Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Asosiasi Sepak Bola Jerman Tentang Boikot Piala Dunia 2022

Sabtu 27 Mar 2021 07:51 WIB

Red: Israr Itah

Perayaan di Qatar saat FIFA mengumumkan negara kaya minyak itu akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Perayaan di Qatar saat FIFA mengumumkan negara kaya minyak itu akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Foto: REUTERS/Fadi Al-Assaad
DFB mendukung hak-hak pekerja migran di Qatar, tapi menolak ide boikot Piala Dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) menentang pemboikotan Piala Dunia 2022.Namun, DFB akan bersama dengan tim nasionalnya dalam mendukung hak-hak pekerja migran di Qatar, kata presiden DFB Fritz Keller, Jumat (26/3). 

Tim Jerman berbaris sebelum kic-koff dalam pertandingan pembukaan kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa melawan Islandia di Duisburg pada Jumat (26/3) dini hari WIB dengan mengenakan baju bergambar deretan huruf bertuliskan "HAK ASASI MANUSIA". Norwegia melakukan protes serupa sehari sebelumnya menjelang pertandingan di Gibraltar ketika para pemain mereka mengenakan kaus bertuliskan: "Hak Asasi Manusia, di dalam dan di luar lapangan".

Baca Juga

Inisiatif tersebut muncul setelah sebuah laporan oleh surat kabar Inggris the Guardian menyebutkan perhitungannya yang menunjukkan setidaknya 6.500 pekerja migran telah meninggal dunia di Qatar sejak negara tersebut memenangi hak untuk menggelar Piala Dunia 2022, 10 tahun lalu. Klub papan atas Norwegia, Tromso, telah meminta federasi sepak bola negaranya untuk mempertimbangkan memboikot Piala Dunia setelah the Guardian menerbitkan laporannya, tetapi Keller menentang langkah tersebut.

"Qatar telah memulai beberapa reformasi, dan telah ada kemajuan yang terlihat, meskipun masih ada hal perlu dilakukan, yang berpotensi boikot dapat dibatalkan," katanya dalam sebuah wawancara yang publikasikan di situs resmi DFB, seperti dilansir Reuters.

Ia berharap dapat mendorong perubahan konkret, dan menerapkannya sebelum memberikan Piala Dunia kepada negara seperti Qatar, di mana ada beberapa hal yang masih perlu diubah.

"Sebaliknya, Qatar dianugerahi Piala Dunia sebagai semacam lompatan keyakinan, dengan harapan itu akan membantu membawa perbaikan," kata dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA