Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Alquran yang Sempurna dan Terpelihara

Jumat 26 Mar 2021 11:47 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil

Alquran yang Sempurna dan Terpelihara. Foto: Alquran

Alquran yang Sempurna dan Terpelihara. Foto: Alquran

Foto: republika
Alquran belum tersusun dalam kitab ketika nabi wafat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran asal katanya terambil dari qara'a yang berbarti membaca. Dari kata qara'a kata jadiannya bisa qira'ah bisa juga qur'an. Kata qira'ah artinya bacaan. Menurut pakar tafsir Alquran, Prof M. Quraish Shihab  bahwa dalam bahasa Arab biasanya kata yang menggunakan akhiran alif dan nun maka kata itu berarti sempurna. Maka Quran artinya bukan cuma sekedar bacaan, tetapi berarti bacaan yang sempurna. 

Berbeda dengan bacaan lainnya yang dapat dengan cepat membuat orang bosan membacanya, terlebih bila tidak mengetahuinya arti dan maksud bacaannya. Keistimewaan daya tarik Alquran justru membuat orang senang membaca terus menerus meskipun tidak mengetahui artinya.

Baca Juga

Selain itu tidak ada satu bacaan pun yang mempunyai aturan dalam membacanya selain Alquran. Bahkan ada adab-adab tersendiri yang diajarkan dalam Islam untuk membaca Alquran.

"Anda pernah tahu ada buku yang diberi penafsiran beribu beratus-ratus jilid seperti Alquran? tidak ada. (Alquran) bacaan yang sempurna. Anda pernah tahu bacaan yang diketahui kapan dia turun, malam atau siang, di Mekkah atau di Madinah (selain Alquran)? Ada buku seperti itu? Tuhan namai ini Alquran, ini bacaan yang sempurna," kata Prof Quraish Shihab dalam M Quraish Shihab Podcast dengan teman Iman pada kesempurnaan Alquran yang disiarkan langsung akun YouTube resmi Quraish Shihab pada Jumat (26/3).

Prof Quraish mengatakan Alquran adalah wahyu Allah SWT yang hanya disampaikan oleh satu malaikat yaitu malaikat Jibril kepada nabi Muhammad. Ia menjelaskan maksud dari mempercayai Alquran berarti mempercayai segala ayat dari surat Al Fatihah sampai surat An Naas. Karenanya jika seseorang hanya percaya sebagian ayat dalam Alquran dan tidak mempercayai ayat lainnya maka orang itu sesungguhnya tidak mempercayai Alquran. Allah Maha Mengetahui, tidak mungkin lupa dan tidak mungkin salah. Maka kata prof Quraish, Alquran pun tidak mungkin ada kesalahan sedikit pun karena adalah firman Allah. 

"Tapi, kita melangkah sekali lagi, kita percaya pada Alquran bahwa itu firman Allah tapi pada teksnya, bukan pada interpretasinya. Ini yang biasa orang kan mau (berkata) ini Quran bilang begini. Iya, betul Alquran bilang begitu, tapi apa begitu maknanya? Belum tentu begitu maknanya. Tidak ada yang bisa memastikan makna suatu susunan kata kecuali pengucapnya. Begitu juga Alquran yang tahu persis cuma Allah. Kita diberi kesempatan untuk menafsirkannya selama Anda telah memenuhi persyaratan penafsirannya," katanya. 

Alquran dijamin Allah SWT terpelihara keautentikannya sehingga tidak akan pernah ada yang bisa mengubah Alquran. Bagaimana Allah memelihara  Alquran? Prof Quraish Shihab menjelaskan, Alquran turun di tengah masyarakat Arab yang tidak pandai membaca dan menulis pada umumnya. Tetapi mempunyai keistimewaan yakni hafalan yang kuat. Sehingga Alquran turun di tengah masyarakat yang mempunyai kemampuan menghafal dan mengagumi sastra. Di tengah masyarakat yang mengagumi sastra itu, Alquran turun dengan susunan redaksi yang sangat mengagumkan sehingga gampang dihafal. Meski Alquran mudah dihafal, nabi Muhammad memerintahkan para sahabat untuk menulis setiap wahyu yang turun. 

Ketika Rasulullah wafat, Alquran belum tersusun dalam kitab. Kemudian Umar bin Khathab pun mengusulkan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan Alquran. Setiap sahabat yang mempunyai naskah Alquran yang ditulis di hadapan nabi Muhammad diperintahkan untuk dibawa. Sebelumnya para sahabat disumpah terlebih dulu dan memeriksa keotentikannya bahwa naskah-naskah tersebut benar ditulis di hadapan nabi dan merupakan ayat Alquran dengan cara mengkroscek dengan hafalan tiap para sahabat. Pada masa Utsman bin Affan Alquran diperbanyak sehingga menyebar ke berbagai negara. Itu sebabnya Alquran yang dibaca saat ini disebut juga Mushaf Utsmani. 

"Jadi sangat terpelihara, keterpeliharaannya itu bukan hanya karena ditulis di hadapan nabi. Dan dikuatkan dengan hafalan," katanya. 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA