Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Pasokan 50 Juta Dosis Hingga Juni, Diupayakan Vaksin Cukup

Kamis 25 Mar 2021 18:55 WIB

Rep: sapto andika candra/ Red: Hiru Muhammad

Petugas antre mengikuti vaksinasi Covid-19 massal di Bandara Internasional Adisucipto, Yogyakarta, Kamis (25/3). Sebanyak 854 petugas di lingkup Bandara Internasional Adisucipto disuntik vaksin Covid-19 tahap pertama.

Petugas antre mengikuti vaksinasi Covid-19 massal di Bandara Internasional Adisucipto, Yogyakarta, Kamis (25/3). Sebanyak 854 petugas di lingkup Bandara Internasional Adisucipto disuntik vaksin Covid-19 tahap pertama.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Dibutuhkan 365 juta dosis vaksin untuk menyuntik 181,5 juta orang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pemerintah menyebutkan ketersediaan pasokan vaksin Covid-19 hingga Juni 2021 sebanyak 50 juta dosis. Namun jumlah ini berpotensi bertambah, menyusul upaya pemerintah menambah pasokan melalui pengiriman dari luar negeri dan produksi sendiri oleh PT Bio Farma. 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, pada prinsipnya pemerintah menjamin ketersediaan pasokan vaksin untuk masyarakat. "Data dari Kemkes, estimasi suplai vaksin baik yang jadi atau bulk di tahun 2021 sampai Juni sekitar 50 juta dosis. Untuk menjamin kebutuhan pemerintah saat ini tidak hanya mengandalkan pembelian vaksin namun juga terus menggenjot produksi vaksin dalam negeri," ujar Wiku dalam keterangan pers, Kamis (25/3). 

Jumlah pasokan vaksin Covid-19 yang disebut di atas termasuk juga target pengiriman vaksin Astrazeneca sebanyak 11,7 juta dosis hingga Mei 2021. Seluruh vaksin Astrazeneca tersebut dikirim dengan skema kerja sama multilateral dengan COVAX. Sebelumnya, sebanyak 1,13 juta dosis vaksin Astrazeneca telah tiba di Indonesia pada Senin (8/3). 

"Sejauh ini belum ada perubahan jadwal kedatangan vaksin Astrazeneca. Dengan demikian kedatangan vaskin Astrazeneca dan jumlah dosisnya masih sama seperti yang disampaikan pada konpers kedatangan vaksin pada 8 Maret 2021 lalu," kata Wiku. 

Dikutip dari siaran pers Kementerian Kesehatan, Menkes Budi Gunadi Sadikin sempat menjelaskan alasan di balik belum tercapainya target 1 juta vaksinasi per hari. Pemerintah, ujar Budi, mencoba menyesuaikan 'pace' atau laju vaksinasi dengan ketersediaan pasokan vaksin di dalam negeri. 

Budi menjelaskan, dibutuhkan 365 juta dosis vaksin untuk menyuntik 181,5 juta orang. Artinya, kalau dirata-rata maka diperoleh satu juta vaksinasi per hari.

Namun, Budi mengatakan, ada keterbatasan di jumlah vaksin. Misal, jumlah vaksin di Januari-Februari hanya ada 3 juta dosis, maka vaksin tidak akan dihabiskan dalam 1 hari 1 juta vaksin. Itu sebabnya, secara perlahan pace (kecepatan) vaksinasi disesuaikan dengan ketersediaan vaksin. 

Sementara dari bulan Januari sampai Maret, target vaksinasi perlahan dinaikkan menuju 100 ribu per hari agar tepat 3 juta dosis selesai dalam enam pekan. Sedangkan untuk Maret dan April tersedia 15 juta dosis vaksin, sehingga bila dibagi 30, maka perlu 500 ribu vaksinasi per hari. "Barulah di Bulan Mei sampai Juni (pasokan) naik ke 25 juta dosis, sehingga bisa dilakukan penyuntikan sampai 750 ribu per hari. Mulai bulan Juli itu 50 juta (dosis), sehingga bisa dilakukan penyuntikan 1,5 juta per hari," ujar Budi. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA