Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Studi: Sel Otak Tetap Hidup Beberapa Jam Setelah Kematian

Kamis 25 Mar 2021 00:05 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Aktivitas otak tidak langsung berhenti beberapa jam setelah kematian manusia.

Aktivitas otak tidak langsung berhenti beberapa jam setelah kematian manusia.

Foto: Pixabay
Aktivitas otak tidak langsung berhenti beberapa jam setelah kematian manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO -- Studi baru yang diterbitkan dalam Scientific Reports menyanggah kepercayaan luas bahwa aktivitas otak berhenti setelah kematian atau tidak lama setelah itu. Peneliti justru menemukan sel otak yang menjadi hidup dan bertumbuh beberapa jam setelah kematian.
 
Para peneliti dari University of Illinois Chicago (UIC) menemukan bahwa sel glial tidak hanya menjadi hidup, tetapi juga bertambah besar dan tumbuh seperti pelengkap beberapa jam setelah seseorang meninggal. Mereka menyebutnya sebagai "gen zombie".

Penulis studi, Jeffrey Loeb, menyebut temuan tersebut sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, sel glial punya sifat inflamasi dan memiliki tugas membersihkan segala hal setelah cedera otak seperti kekurangan oksigen atau stroke.

Studi tersebut hanya mengungkap fakta yang sebenarnya. Selama ini, sebagian besar penelitian berasumsi bahwa segala sesuatu di otak berhenti ketika jantung berhenti berdetak, tetapi Loeb dan timnya membuktikan bahwa sebenarnya tidak demikian.

"Temuan kami akan diperlukan untuk menafsirkan penelitian tentang jaringan otak manusia. Kami belum menghitung perubahan ini sampai sekarang," kata Loeb yang menjabat sebagai kepala neurologi dan rehabilitasi di UIC's College of Medicine.

Tim UIC menganalisis jaringan otak segar dari orang-orang dengan gangguan neurologis dan orang yang tidak. Ditemukan bahwa sekitar 80 persen dari gen yang dianalisis tidak banyak berubah selama rentang 24 jam, tetapi ada perubahan dalam jenis gen tertentu.

Saat gen neuronal berkurang, "gen zombie" justru menjadi semakin aktif selama 12 jam pertama setelah kematian. Menurut Loeb, temuannya tidak berarti mementahkan program penelitian jaringan manusia yang selama ini sudah dilakukan.

Baca juga : Orang-Orang yang 'Tidak Boleh' Minum Kopi

Seperti dikutip dari laman Complex, Rabu (24/3), riset terbaru itu justru mendorong para peneliti supaya memperhitungkan perubahan genetik dan seluler. Mengurangi interval post-mortem sebanyak mungkin akan mengurangi besarnya perubahan tersebut.

"Kabar baik dari temuan kami adalah bahwa kami sekarang tahu gen dan jenis sel mana yang stabil, mana yang terdegradasi, dan mana yang meningkat seiring waktu sehingga hasil dari studi otak postmortem dapat lebih dipahami," ungkap Loeb.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA