Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Jauhkan Pengaruh China, Taiwan Tawarkan Bantuan Bersyarat

Kamis 25 Mar 2021 00:31 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Friska Yolandha

 Seorang dokter militer bersiap untuk menyuntikkan vaksin Sinovac dari China selama vaksinasi. Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mengatakan, Taiwan akan membantu beberapa negara sekutunya untuk membeli vaksin Covid-19, dengan syarat bantuan itu tidak digunakan untuk membeli vaksin buatan China.

Seorang dokter militer bersiap untuk menyuntikkan vaksin Sinovac dari China selama vaksinasi. Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mengatakan, Taiwan akan membantu beberapa negara sekutunya untuk membeli vaksin Covid-19, dengan syarat bantuan itu tidak digunakan untuk membeli vaksin buatan China.

Foto: AP Photo/Aaron Favila
Taiwan membantu Paraguay membeli vaksin Covid-19, tetapi bukan vaksin China.

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mengatakan, Taiwan akan membantu beberapa negara sekutunya untuk membeli vaksin Covid-19, dengan syarat bantuan itu tidak digunakan untuk membeli vaksin buatan China. Taiwan diklaim memiliki hubungan diplomatik dengan hanya 15 negara, sebagian besar merupakan negara berkembang di Amerika Latin, Karibia, dan Pasifik. Di sisi lain, Beijing semakin berupaya menjauhkan mereka dari Taipei. 

Taiwan mengatakan pekan lalu bahwa mereka membantu satu-satunya sekutu diplomatiknya di Amerika Selatan, Paraguay, untuk membeli vaksin Covid-19, setelah kurangnya penanganan kesehatan oleh pemerintah Paraguay. Wu mengatakan kepada parlemen bahwa mereka akan membantu sekutu mereka membeli vaksin yang mereka butuhkan.

“Tapi salah satu syaratnya, vaksin China tidak bisa dibeli. Atau kalau beli vaksin China tidak bisa pakai uang kita (Taiwan),” ujar Wu yang dikutip di Reuters, Rabu (24/3).

Baca Juga

Meskipun Taiwan telah menyediakan masker dan peralatan lain ke negara lain untuk mengendalikan pandemi, Taiwan baru memulai program vaksinasinya pekan ini. Vaksin yang dikembangkan negara itu juga diperkirakan tidak akan diluncurkan hingga pertengahan tahun nanti. Sementara itu China telah menawarkan vaksin buatannya ke sebagian besar negara berkembang. 

Pada Senin (22/3), Kementerian Luar Negeri Paraguay mengatakan bahwa pemerintah telah didekati oleh orang-orang yang didiga memiliki legitimasi atau hubungan dengan pemerintah Republik Rakyat China yang menawarkan bantuan vaksin. Dikatakan bahwa orang-orang, yang tidak disebutkan namanya itu, menyarankan untuk meninggalkan Taiwan sebagai prasyarakat untuk mendapatkan bantuan. Mereka juga menggunakan ‘skenario kemanusiaan yang menyedihkan’ sebagai ancaman bahwa siapapun harus memanfaatkan pandemi untuk keuntungan politik dan ekonomi. 

Disisi lain, Wu mengatakan dia yakin dengan hubungan Taiwan dengan Paraguay, yang dia katakan "membenci" China. "Pemerintah Paraguay tahu bahwa ada bayangan China, dana China, dan saluran China di balik kekacauan di sana, dan mereka membenci China," katanya.

Kementerian Luar Negeri China tidak segera menanggapi permintaan komentar. Beijing memandang pemerintah Taiwan yang terpilih secara demokratis sebagai tidak sah, dan menganggap pulau itu hanyalah provinsi China tanpa hak untuk hubungan antar negara bagian.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA